Pertama kali seorang cowok melihat seorang cewek, ia melihat makhluk yang begitu indah, timbulah keinginannya untuk memiliki makhluk itu, ia mendekatinya. Sang cewek menyambut sang cowok dengan hati terbuka lebar, ia melihat sang cowok yang gagah, dan ia ingin dijaga dan dilindungi. Lalu sang cowok menyatakan perasaan cintanya kepada sang cewek, ia mengutarakan keinginannya agar sang cewek menjadi kekasihnya, dan sang cewek pun dengan senang hati menerimanya. Cinta itu terasa ajaib, mereka senang berkumpul bersama, melakukan segala sesuatu bersama, dan saling berbagi rasa. Mereka saling mempelajari, menghargai, menjajagi, dan menghargai kebutuhan-kebutuhan, kesukaan-kesukaan, serta pola-pola tingkah laku keselarasan. Kemesraan dan keromantisan, cumbuan dan rayuan sangat begitu indahnya seolah-olah dunia ini adalah syurga bagi mereka berdua. Inilah yang disebut oleh orang-orang “jatuh cinta”. Mereka menjalin suatu hubungan yang disebut "pacaran".
Terkadang, Cinta suci yang diikrarkan lambat laun berubah menjadi cinta birahi. Akhirnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas seperti (saya buat istilah agar terbaca lebih halus) Kissing, Necking, Petting, hingga (maaf) Intercousing. Dari sekadar sedikit sentuh-sentuhan atau pegang-pegangan hingga ke perzinahan.
Terkadang pula, seiring berjalan waktu, yang pada awalnya segala sesuatu indah dan menyenangkan. Seketika berubah. Salah satunya ingin lepas karena bosan jenuh, ingin mencari yang lebih baik, tidak percaya, tidak dapat menerima kekurangan, dan sebagainya. Dan salah satunya lagi dikhianati, dikekang, ditinggalkan, dihiraukan dan lain-lain sebagainya. Dan akhirnya hubungan pacaran mereka putus.
Sebagian diantara mereka lalu menjalin hubungan pacaran dengan orang lain lagi dan mengulangi kisah yang sama berkali-kali sebelum akhirnya mereka menikah.
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah, “Kemanakah cinta yang indah, yang diagung-agungkan dan yang disakralkan itu? Kemanakah semua kata-kata, dan janji-janji setia dan cinta itu? Kemanakah komitmen cinta itu?” Bagi sebagian mereka, semua itu seketika berubah menjadi bencana, kedukaan, kemalangan, kesedihan, trauma dan keputus asaan. Cinta mereka ternyata hanyalah semu belaka.
Mereka semua telah salah jalan, mengotori hati dan tubuhnya karena memberikan sesuatu yang belum menjadi haknya dan melaksanakan sesuatu yang belum menjadi kewajibannya. Tidak ada ikatan dan komitmen.
Oleh karena itu, hukum berpacaran dalam syari’at Islam adalah “HARAM”, tidak terbantahkan, dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ‘ulama’ manapun tentang hal ini.
Tentang perkataan sebagian orang-orang yang menyatakan pacaran hanyalah jalan untuk saling kenal-mengenal adalah perkataan yang lemah, karena saling kenal-mengenal tidak harus dengan pacaran.
Sangat banyak sekali pasangan muslim menikah dengan niat ibadah karena Allah, dan tanpa melalui pacaran, mereka hidup sangat bahagia bersama dan sangat sukses membangun rumah tangga. Dan sebaliknya pacaran yang dijalin dengan indah tidak akan pernah menjamin pernikahan yang juga indah.
Islam melarang pacaran bukan berarti mengekang rasa cinta kepada lawan jenis. Justru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya sesuai pada tempatnya. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia unruk melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab. Karena itu hanya satu jalan yang diridhai Allah, sesuai bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaih, dan pastinya sesuai pada tempatnya. Yaitu melalui pernikahan.
Karena dengan pernikahan kedua manusia yang berlainan jenis, diikat dengan komitmen dan tanggung jawab, yang menjadikan hak dan kewajiban diantara keduanya, maka menjadi halal apa yang sebelumnya haram.
Islam ingin membimbing manusia kepada kesucian (fitrah) hati dan keturunan (nasab). Cinta sejati adalah cinta yang terjalin setelah menikah, cinta sebelum menikah adalah cinta yang semu yang tidak patut untuk agungkan atau disakralkan, semestinya ia tidaklah lebih dari rasa simpati.
Tidakkah begitu suci dan indah jika cinta pertama dan terakhir itu diberikan kepada orang yang sangat tepat yaitu suami / isteri? Alangkah indahnya rumah tangga dan alangkah indahnya hidup! Itulah cinta sejati yang sebenarnya. Oleh karena itulah Rasulullah pernah bersabda, "Rumahku adalah syurgaku".
Terkadang, Cinta suci yang diikrarkan lambat laun berubah menjadi cinta birahi. Akhirnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas seperti (saya buat istilah agar terbaca lebih halus) Kissing, Necking, Petting, hingga (maaf) Intercousing. Dari sekadar sedikit sentuh-sentuhan atau pegang-pegangan hingga ke perzinahan.
Terkadang pula, seiring berjalan waktu, yang pada awalnya segala sesuatu indah dan menyenangkan. Seketika berubah. Salah satunya ingin lepas karena bosan jenuh, ingin mencari yang lebih baik, tidak percaya, tidak dapat menerima kekurangan, dan sebagainya. Dan salah satunya lagi dikhianati, dikekang, ditinggalkan, dihiraukan dan lain-lain sebagainya. Dan akhirnya hubungan pacaran mereka putus.
Sebagian diantara mereka lalu menjalin hubungan pacaran dengan orang lain lagi dan mengulangi kisah yang sama berkali-kali sebelum akhirnya mereka menikah.
Sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah, “Kemanakah cinta yang indah, yang diagung-agungkan dan yang disakralkan itu? Kemanakah semua kata-kata, dan janji-janji setia dan cinta itu? Kemanakah komitmen cinta itu?” Bagi sebagian mereka, semua itu seketika berubah menjadi bencana, kedukaan, kemalangan, kesedihan, trauma dan keputus asaan. Cinta mereka ternyata hanyalah semu belaka.
Mereka semua telah salah jalan, mengotori hati dan tubuhnya karena memberikan sesuatu yang belum menjadi haknya dan melaksanakan sesuatu yang belum menjadi kewajibannya. Tidak ada ikatan dan komitmen.
Oleh karena itu, hukum berpacaran dalam syari’at Islam adalah “HARAM”, tidak terbantahkan, dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ‘ulama’ manapun tentang hal ini.
Tentang perkataan sebagian orang-orang yang menyatakan pacaran hanyalah jalan untuk saling kenal-mengenal adalah perkataan yang lemah, karena saling kenal-mengenal tidak harus dengan pacaran.
Sangat banyak sekali pasangan muslim menikah dengan niat ibadah karena Allah, dan tanpa melalui pacaran, mereka hidup sangat bahagia bersama dan sangat sukses membangun rumah tangga. Dan sebaliknya pacaran yang dijalin dengan indah tidak akan pernah menjamin pernikahan yang juga indah.
Islam melarang pacaran bukan berarti mengekang rasa cinta kepada lawan jenis. Justru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya sesuai pada tempatnya. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia unruk melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab. Karena itu hanya satu jalan yang diridhai Allah, sesuai bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaih, dan pastinya sesuai pada tempatnya. Yaitu melalui pernikahan.
Karena dengan pernikahan kedua manusia yang berlainan jenis, diikat dengan komitmen dan tanggung jawab, yang menjadikan hak dan kewajiban diantara keduanya, maka menjadi halal apa yang sebelumnya haram.
Islam ingin membimbing manusia kepada kesucian (fitrah) hati dan keturunan (nasab). Cinta sejati adalah cinta yang terjalin setelah menikah, cinta sebelum menikah adalah cinta yang semu yang tidak patut untuk agungkan atau disakralkan, semestinya ia tidaklah lebih dari rasa simpati.
Tidakkah begitu suci dan indah jika cinta pertama dan terakhir itu diberikan kepada orang yang sangat tepat yaitu suami / isteri? Alangkah indahnya rumah tangga dan alangkah indahnya hidup! Itulah cinta sejati yang sebenarnya. Oleh karena itulah Rasulullah pernah bersabda, "Rumahku adalah syurgaku".

kadang ketika rasa cinta menerpa dalam dir, tanpa kita sadari bahwa kita sdh terperangkap didalammnya, tanpa sanggup untuk keluar dari perangkap itu sendiri....
ReplyDeleteCinta kadang buat kita bahagia, kadang juga buat kita menderita, tapi buatlah cinta itu indah dimata Allah........