Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah majelis kajian keislaman disuatu masjid, sebenarnya ini bukanlah hal baru atau pertama bagi saya, dahulu saya pernah menjadi seorang murab (pendidik) dan memiliki belasan orang mutarab (yang dididik).
Saya merasa bersyukur sekali, dengan demikian saya kembali membuka-buka catatan-catatan lama, dan mengingat kembali tentang banyak hal yang pernah saya dapatkan dan memberikannya kembali kepada orang lain, saya sangat bahagia bisa memberikan hal yang baik dan bermanfaat untuk umat (ciyee!, sekelompok kecil umat berjumlah beberapa puluh orang dimajelis maksudnya, he he he . . . )
Suatu ketika, ada seseorang yang mengetahui kegiatan saya ini, ia mengatakan kepada saya, “Kamu tidak pantas!, tidak sesuai dengan kelakuanmu!”. Saya merasa sangat terhenyak dengan perkataan itu. Disatu sisi saya merasa sangat tersinggung, namun saya berusaha bersikap biasa saja, namun disisi lain saya merasa, “Mungkin apa yang ia katakan adalah benar”. Memang saya tidak pantas memberikan materi dimajelis kajian keislaman, karena memang apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan kelakuan saya. Saya berfikir, mungkin sebaiknya saya berhenti menulis atau memberikan tausiyah atau menolak jika diundang lagi untuk memberikan materi di majelis kajian keislaman.
Namun beberapa hari kemudian, saya teringat masa lalu saya ketika saya masih sangat rajin mengikuti kajian-kajian keislaman. Saya pernah belajar dan dekat dengan seorang murab, awalnya ia adalah seseorang yang sangat saya kagumi ilmunya, keimanannya dan akhlaqnya, suatu ketika saya melihat murab saya melakukan suatu kesalahan, saya merasa sebagai murab hal itu adalah tercela dan tidak pantas ia lakukan, ia juga ternyata bukanlah seseorang yang tinggi ilmunya, kuat imannya, dan mulia akhlaqnya seperti yang saya kira, saya kecewa dan mulai menjaga jarak dengannya. Beberapa waktu kemudian saya belajar dengan murab yang lain, dan hal demikian juga terulang kembali. Begitu juga seterusnya ketika saya pindah belajar dengan murab yang lain, kalaupun tidak terlihat aibnya pada saat itu, maka saya akhirnya mengetahuinya kemudian hari.
Hingga suatu ketika, seorang murab saya menyampaikan bahwa sifat “Figuritas” adalah sifat yang tercela, murab saya menjelaskan panjang lebar tentang sifat buruk ini, dan pentingnya “Istiqamah” (keteguhan hati). Dilain waktu dan kesempatan saya juga mencoba berusaha banyak belajar tentang hal ini.
Dan akhirnya saya sadar, semua itu semestinya tidak boleh menghalangi saya untuk tetap belajar ilmu kepada mereka.
Siapapun dia, murab, ustad, bahkan ‘ulama besar dimasa generasi terbaik umat terdahulu sekalipun (Salafiyyin), mereka bukanlah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi, mereka bukan manusia sempurna yang terpelihara dari perbuatan dosa, mereka bukan malaikat yang tidak bisa lupa, lalai atau khilaf. Mereka adalah manusia biasa yang sama persis seperti saya.
Para ‘ulama’ yang semoga Allah memuliakan mereka adalah para pewaris Rasulullah shalallahu ‘alaih, mereka berda’wah menjaga kemurnian agama, menyebarkan ajaran untuk membimbing manusia kejalan yang lurus, bahagia didunia dan diakhirat kelak. Terlepas dari semua itu, mereka adalah manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari kelalaian, dan kekhilafan. Namun kesalahan-kesalahan mereka adalah untuk diri mereka sendiri pribadi. Kita tidak pernah diajarkan untuk berittiba’ (mengikuti) mereka, justru berittiba’ apalagi jika secara fanatik kepada mereka adalah hal yang tercela dan bagian dari sifat orang-orang kafir sebelum islam datang, namun kita diperintahkan untuk berittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaih, Al Qur-an dan As Sunnah.
Agama ini telah sempurna, tidak lagi memerlukan pengurangan atau penambahan. Wajib hukumnya bagi masing-masing kita untuk belajar menuntut ilmu kepada ahli ilmu yaitu para ‘ulama’ tentang dua perkara diatas, kelalaian atau kekhilafan mereka adalah untuk diri pribadi mereka sendiri, dan kelak mereka akan dimintakan pertanggungan jawab oleh Allah atas diri mereka sendiri, sebaliknya yang mereka perbuat untuk untuk umat ini semoga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah.
Tentang hal yang mereka berikan kepada umat, jika adalah suatu kesalahan atau kesesatan maka sebenarnya telah jelaslah “Al Furqan” (pembeda) antara “Al Haq” (kebenaran) dan “Al Bathil” (kesalahan) namun hanya bagi orang-orang yang berilmu, sesuai yang telah disampaikan oleh Al Qur-an dan As Sunnah. Jika mereka para ‘ulama’ berijtihad, maka Ijtihad yang salah sekalipun mendapatkan satu pahala, dan Ijtihad yang benar mendapatkan dua pahala. Semoga akan selalu terus ada sekelompok kecil umat yang menjaga kemurnian agama ini hingga menjelang hari qiyamah.
Saya mencoba dan berusaha berbuat baik, saya sangat yakin setiap perbuatan baik sekecil apapun akan dinilai oleh Allah, dan berbuat jahat sekecil apapun juga akan dinilai oleh Allah. Saya kira berbuat salah tidak boleh menghalangi seseorang untuk berbuat baik, setiap manusia tidak akan pernah luput dari perbuatan dosa, dan sebaik-baik mereka yang berbuat dosa adalah mereka yang mengiringi perbuatan dosa itu dengan taubat, berbuat dosa kembali dan bertaubat kembali, dan seterusnya.
Saya hanyalah seseorang yang baru ingin belajar agama kemarin sore, saya sadar sepenuhnya saya tidak layak disebut murab, apalagi ustadz, apa yang saya berikan juga tidak pantas dengan amalan saya sehari-hari yang gemar melakukan perbuatan dosa. Namun saya akan tetap mencoba berusaha berbuat hal yang saya anggap baik dan bermanfaat.
Perkataan seseorang seperti diatas adalah nasihat bagi saya, dan ketika saya merasa risau, saya pertanyakan kembali kepada diri saya sendiri, bukankah saya melakukannya dengan niat untuk mendapatkan ridha dari Allah? Oleh karena itu biarkan Allah-lah yang akan menilainya.
Saya ingat tentang perkataan seseorang, “jika orang-orang memuji kebaikan kita, maka sebenarnya Allah sedang menutupi kejelekan-kejelekannya.” Oleh karena itu sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman ketika ada seseorang yang memuji-muji kebaikan saya, semoga hal itu tidak menjadikan saya lupa dengan kejelekan-kejelekan saya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap Istiqamah dijalan-Nya, amiin!
Saya merasa bersyukur sekali, dengan demikian saya kembali membuka-buka catatan-catatan lama, dan mengingat kembali tentang banyak hal yang pernah saya dapatkan dan memberikannya kembali kepada orang lain, saya sangat bahagia bisa memberikan hal yang baik dan bermanfaat untuk umat (ciyee!, sekelompok kecil umat berjumlah beberapa puluh orang dimajelis maksudnya, he he he . . . )
Suatu ketika, ada seseorang yang mengetahui kegiatan saya ini, ia mengatakan kepada saya, “Kamu tidak pantas!, tidak sesuai dengan kelakuanmu!”. Saya merasa sangat terhenyak dengan perkataan itu. Disatu sisi saya merasa sangat tersinggung, namun saya berusaha bersikap biasa saja, namun disisi lain saya merasa, “Mungkin apa yang ia katakan adalah benar”. Memang saya tidak pantas memberikan materi dimajelis kajian keislaman, karena memang apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan kelakuan saya. Saya berfikir, mungkin sebaiknya saya berhenti menulis atau memberikan tausiyah atau menolak jika diundang lagi untuk memberikan materi di majelis kajian keislaman.
Namun beberapa hari kemudian, saya teringat masa lalu saya ketika saya masih sangat rajin mengikuti kajian-kajian keislaman. Saya pernah belajar dan dekat dengan seorang murab, awalnya ia adalah seseorang yang sangat saya kagumi ilmunya, keimanannya dan akhlaqnya, suatu ketika saya melihat murab saya melakukan suatu kesalahan, saya merasa sebagai murab hal itu adalah tercela dan tidak pantas ia lakukan, ia juga ternyata bukanlah seseorang yang tinggi ilmunya, kuat imannya, dan mulia akhlaqnya seperti yang saya kira, saya kecewa dan mulai menjaga jarak dengannya. Beberapa waktu kemudian saya belajar dengan murab yang lain, dan hal demikian juga terulang kembali. Begitu juga seterusnya ketika saya pindah belajar dengan murab yang lain, kalaupun tidak terlihat aibnya pada saat itu, maka saya akhirnya mengetahuinya kemudian hari.
Hingga suatu ketika, seorang murab saya menyampaikan bahwa sifat “Figuritas” adalah sifat yang tercela, murab saya menjelaskan panjang lebar tentang sifat buruk ini, dan pentingnya “Istiqamah” (keteguhan hati). Dilain waktu dan kesempatan saya juga mencoba berusaha banyak belajar tentang hal ini.
Dan akhirnya saya sadar, semua itu semestinya tidak boleh menghalangi saya untuk tetap belajar ilmu kepada mereka.
Siapapun dia, murab, ustad, bahkan ‘ulama besar dimasa generasi terbaik umat terdahulu sekalipun (Salafiyyin), mereka bukanlah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi, mereka bukan manusia sempurna yang terpelihara dari perbuatan dosa, mereka bukan malaikat yang tidak bisa lupa, lalai atau khilaf. Mereka adalah manusia biasa yang sama persis seperti saya.
Para ‘ulama’ yang semoga Allah memuliakan mereka adalah para pewaris Rasulullah shalallahu ‘alaih, mereka berda’wah menjaga kemurnian agama, menyebarkan ajaran untuk membimbing manusia kejalan yang lurus, bahagia didunia dan diakhirat kelak. Terlepas dari semua itu, mereka adalah manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari kelalaian, dan kekhilafan. Namun kesalahan-kesalahan mereka adalah untuk diri mereka sendiri pribadi. Kita tidak pernah diajarkan untuk berittiba’ (mengikuti) mereka, justru berittiba’ apalagi jika secara fanatik kepada mereka adalah hal yang tercela dan bagian dari sifat orang-orang kafir sebelum islam datang, namun kita diperintahkan untuk berittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaih, Al Qur-an dan As Sunnah.
Agama ini telah sempurna, tidak lagi memerlukan pengurangan atau penambahan. Wajib hukumnya bagi masing-masing kita untuk belajar menuntut ilmu kepada ahli ilmu yaitu para ‘ulama’ tentang dua perkara diatas, kelalaian atau kekhilafan mereka adalah untuk diri pribadi mereka sendiri, dan kelak mereka akan dimintakan pertanggungan jawab oleh Allah atas diri mereka sendiri, sebaliknya yang mereka perbuat untuk untuk umat ini semoga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah.
Tentang hal yang mereka berikan kepada umat, jika adalah suatu kesalahan atau kesesatan maka sebenarnya telah jelaslah “Al Furqan” (pembeda) antara “Al Haq” (kebenaran) dan “Al Bathil” (kesalahan) namun hanya bagi orang-orang yang berilmu, sesuai yang telah disampaikan oleh Al Qur-an dan As Sunnah. Jika mereka para ‘ulama’ berijtihad, maka Ijtihad yang salah sekalipun mendapatkan satu pahala, dan Ijtihad yang benar mendapatkan dua pahala. Semoga akan selalu terus ada sekelompok kecil umat yang menjaga kemurnian agama ini hingga menjelang hari qiyamah.
Saya mencoba dan berusaha berbuat baik, saya sangat yakin setiap perbuatan baik sekecil apapun akan dinilai oleh Allah, dan berbuat jahat sekecil apapun juga akan dinilai oleh Allah. Saya kira berbuat salah tidak boleh menghalangi seseorang untuk berbuat baik, setiap manusia tidak akan pernah luput dari perbuatan dosa, dan sebaik-baik mereka yang berbuat dosa adalah mereka yang mengiringi perbuatan dosa itu dengan taubat, berbuat dosa kembali dan bertaubat kembali, dan seterusnya.
Saya hanyalah seseorang yang baru ingin belajar agama kemarin sore, saya sadar sepenuhnya saya tidak layak disebut murab, apalagi ustadz, apa yang saya berikan juga tidak pantas dengan amalan saya sehari-hari yang gemar melakukan perbuatan dosa. Namun saya akan tetap mencoba berusaha berbuat hal yang saya anggap baik dan bermanfaat.
Perkataan seseorang seperti diatas adalah nasihat bagi saya, dan ketika saya merasa risau, saya pertanyakan kembali kepada diri saya sendiri, bukankah saya melakukannya dengan niat untuk mendapatkan ridha dari Allah? Oleh karena itu biarkan Allah-lah yang akan menilainya.
Saya ingat tentang perkataan seseorang, “jika orang-orang memuji kebaikan kita, maka sebenarnya Allah sedang menutupi kejelekan-kejelekannya.” Oleh karena itu sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman ketika ada seseorang yang memuji-muji kebaikan saya, semoga hal itu tidak menjadikan saya lupa dengan kejelekan-kejelekan saya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap Istiqamah dijalan-Nya, amiin!

No comments:
Post a Comment