Tulisan ini sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pacaran . . .”
Sepasang remaja pria dan wanita telah lama berpacaran, telah banyak saling berbagi, telah banyak yang dijalani baik suka maupun duka.
Lalu suatu ketika mereka putus, beberapa waktu kemudian, sang wanita merasa kehilangan, dia sangat mencintai pacarnya, dan sangat sulit untuk melupakannya. Hari-hari ia jalani dengan patah hati, kesedihan dan keputus asaan.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria lain, mereka pacaran dan lalu menikah. Sang wanita yang telah menjadi isteri ini merasakan bahwa pernikahan adalah hal yang sangat berbeda dibandingkan sewaktu ia pacaran dulu.
Ia merasa, bahwa pacarnya sebelum suaminya adalah seseorang yang sangat berkesan baginya, sang wanita ini tidak pernah merasakan cinta seindah masa lalunya, mantan pacarnya adalah “cinta pertama-nya”. Hatinya mengatakan “cinta tidak harus memiliki, aku akan selalu mencintai dan mengenangmu, kau adalah pria terbaik dalam hidupku, dan tidak akan pernah ada yang dapat menggantikanmu”.
Kisah rekaan diatas seandainya memang terjadi pada kehidupan nyata, menurut saya merupakan suatu hal yang merusak hati, dimana mungkin sang isteri akan kesulitan untuk mencintai suaminya dengan seutuhnya karena bayang-bayang masa lalu dengan mantan pacarnya. Mungkin ia dan suaminya akan menderita karena tidak dapat merasakan indahnya cinta di sisa-sisa hidupnya.
Saya kira semua orang yang telah menikah pasti tahu, pacaran dibandingkan pernikahan pastilah pacaran jauh lebih indah, jawabannya sederhana saja, “karena pacaran hanya untuk mencari rasa indah”. Banyak yang mengatakan, setelah menikah pasangan suami isteri baru akan tahu sifat-sifat pasangan mereka yang sebenarnya.
Salim A Fillah, penulis buku “Indahnya pacaran setelah menikah” mengatakan “Sup kaldu yang bumbunya dimakan duluan” sebagai istilah bagi mereka yang telah menikmati indahnya cinta sepasang kekasih ketika pacaran. Maka, sup itu akan terasa hambar tanpa bumbu, tidaklah lagi sangat berkesan hari-hari pertama kebersamaan sepasang suami isteri.
Beliau juga mengumpamakan “Indahnya pacaran setelah menikah” adalah seperti orang yang berbuka puasa, menahan diri dari yang belum halal, menunggu hari-hari yang indah, dan mengobati rasa dahaga karena puasa yang panjang, maka berbuka akan menjadi sangat nikmat.
Pengalaman-pengalaman pertama yang tidak pernah dirasakan sebelumnya adalah hal yang paling berkesan, paling indah, dan sekaligus yang paling mendebarkan. Seterusnya mungkin adalah hal yang biasa, bahkan kejenuhan atau kebosanan.
Saya percaya dan yakin “Pacaran setelah menikah” adalah jalan terbaik untuk merasakan indahnya cinta pertama dan terakhir, cinta yang hakiki. Alangkah indahnya jika pasangan (suami atau isteri) kita kelak merupakan cinta pertama sekaligus cinta terakhir kita.
Alangkah indahnya bersama berduaan untuk pertama kalinya, bercengkrama dan bercanda berduaan dengan hati yang berdebar dan rasa malu-malu yang sungguh mengasyikan. Alangkah indahnya ketika pertama kali memandang matanya dan membelai rambutnya, alangkah indahnya ketika pertama kali menggenggam tanggan, mencium kening dan memeluk tubuhnya. Semua itu akan menjadi kenangan terindah dan tak terlupakan dalam hidup.
Pada hari-hari berikutnya, saling memberikan perhatian, rekreasi dan jalan-jalan berdua, bercumbu rayu. Alangkah indahnya hal-hal yang pertama dan tidak pernah dirasakan sebelumnya itu. Semoga semua rasa indah itu akan menjadi kekuatan jalinan cinta dalam ikatan suci pernikahan.
Apakah akan ada cinta setelah menikah? Apakah pacaran setelah menikah akan indah? Orang jawa mengatakan, “witting tresna jalaran saka kulina” muasal cinta adalah kebiasaan, orang arab mengatakan “qurbul wisad wa thulus siwad” dekatnya fisik dan panjangnya interaksi. Selain itu tumbuhnya cinta juga memerlukan usaha. Semoga cinta akan dapat tumbuh dan berkembang karena kebersamaan dan saling berbagi. Allah memberikan ketentraman hati kepada orang yang baru menikah, lalu Allah menjadikan diantara mereka rasa “kasih dan sayang”.
Lalu bagaimana dengan perbedaan-perbedaan yang dapat muncul setelah mereka menikah? Pada dasarnya memang perbedaan itu adalah fitrah, namun bagaimana kita dapat mensikapi perbedaan-perbedaan dengan bijaksana. Terima dengan hati yang ikhlash setiap kekurangan dan kelemahan dan syukuri semua anugerah yang Allah berikan. Selain itu juga, pernikahan adalah ikatan komitmen dan tanggung jawab.
Pacaran setelah menikah tentu sangatlah indah, dan akan menjadikan pernikahan juga sangat indah seolah syurga kecil didunia ini. Namun semua itu mungkin tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang telah menikmati semua rasa itu sebelum mereka menikah.
Sepasang remaja pria dan wanita telah lama berpacaran, telah banyak saling berbagi, telah banyak yang dijalani baik suka maupun duka.
Lalu suatu ketika mereka putus, beberapa waktu kemudian, sang wanita merasa kehilangan, dia sangat mencintai pacarnya, dan sangat sulit untuk melupakannya. Hari-hari ia jalani dengan patah hati, kesedihan dan keputus asaan.
Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria lain, mereka pacaran dan lalu menikah. Sang wanita yang telah menjadi isteri ini merasakan bahwa pernikahan adalah hal yang sangat berbeda dibandingkan sewaktu ia pacaran dulu.
Ia merasa, bahwa pacarnya sebelum suaminya adalah seseorang yang sangat berkesan baginya, sang wanita ini tidak pernah merasakan cinta seindah masa lalunya, mantan pacarnya adalah “cinta pertama-nya”. Hatinya mengatakan “cinta tidak harus memiliki, aku akan selalu mencintai dan mengenangmu, kau adalah pria terbaik dalam hidupku, dan tidak akan pernah ada yang dapat menggantikanmu”.
Kisah rekaan diatas seandainya memang terjadi pada kehidupan nyata, menurut saya merupakan suatu hal yang merusak hati, dimana mungkin sang isteri akan kesulitan untuk mencintai suaminya dengan seutuhnya karena bayang-bayang masa lalu dengan mantan pacarnya. Mungkin ia dan suaminya akan menderita karena tidak dapat merasakan indahnya cinta di sisa-sisa hidupnya.
Saya kira semua orang yang telah menikah pasti tahu, pacaran dibandingkan pernikahan pastilah pacaran jauh lebih indah, jawabannya sederhana saja, “karena pacaran hanya untuk mencari rasa indah”. Banyak yang mengatakan, setelah menikah pasangan suami isteri baru akan tahu sifat-sifat pasangan mereka yang sebenarnya.
Salim A Fillah, penulis buku “Indahnya pacaran setelah menikah” mengatakan “Sup kaldu yang bumbunya dimakan duluan” sebagai istilah bagi mereka yang telah menikmati indahnya cinta sepasang kekasih ketika pacaran. Maka, sup itu akan terasa hambar tanpa bumbu, tidaklah lagi sangat berkesan hari-hari pertama kebersamaan sepasang suami isteri.
Beliau juga mengumpamakan “Indahnya pacaran setelah menikah” adalah seperti orang yang berbuka puasa, menahan diri dari yang belum halal, menunggu hari-hari yang indah, dan mengobati rasa dahaga karena puasa yang panjang, maka berbuka akan menjadi sangat nikmat.
Pengalaman-pengalaman pertama yang tidak pernah dirasakan sebelumnya adalah hal yang paling berkesan, paling indah, dan sekaligus yang paling mendebarkan. Seterusnya mungkin adalah hal yang biasa, bahkan kejenuhan atau kebosanan.
Saya percaya dan yakin “Pacaran setelah menikah” adalah jalan terbaik untuk merasakan indahnya cinta pertama dan terakhir, cinta yang hakiki. Alangkah indahnya jika pasangan (suami atau isteri) kita kelak merupakan cinta pertama sekaligus cinta terakhir kita.
Alangkah indahnya bersama berduaan untuk pertama kalinya, bercengkrama dan bercanda berduaan dengan hati yang berdebar dan rasa malu-malu yang sungguh mengasyikan. Alangkah indahnya ketika pertama kali memandang matanya dan membelai rambutnya, alangkah indahnya ketika pertama kali menggenggam tanggan, mencium kening dan memeluk tubuhnya. Semua itu akan menjadi kenangan terindah dan tak terlupakan dalam hidup.
Pada hari-hari berikutnya, saling memberikan perhatian, rekreasi dan jalan-jalan berdua, bercumbu rayu. Alangkah indahnya hal-hal yang pertama dan tidak pernah dirasakan sebelumnya itu. Semoga semua rasa indah itu akan menjadi kekuatan jalinan cinta dalam ikatan suci pernikahan.
Apakah akan ada cinta setelah menikah? Apakah pacaran setelah menikah akan indah? Orang jawa mengatakan, “witting tresna jalaran saka kulina” muasal cinta adalah kebiasaan, orang arab mengatakan “qurbul wisad wa thulus siwad” dekatnya fisik dan panjangnya interaksi. Selain itu tumbuhnya cinta juga memerlukan usaha. Semoga cinta akan dapat tumbuh dan berkembang karena kebersamaan dan saling berbagi. Allah memberikan ketentraman hati kepada orang yang baru menikah, lalu Allah menjadikan diantara mereka rasa “kasih dan sayang”.
Lalu bagaimana dengan perbedaan-perbedaan yang dapat muncul setelah mereka menikah? Pada dasarnya memang perbedaan itu adalah fitrah, namun bagaimana kita dapat mensikapi perbedaan-perbedaan dengan bijaksana. Terima dengan hati yang ikhlash setiap kekurangan dan kelemahan dan syukuri semua anugerah yang Allah berikan. Selain itu juga, pernikahan adalah ikatan komitmen dan tanggung jawab.
Pacaran setelah menikah tentu sangatlah indah, dan akan menjadikan pernikahan juga sangat indah seolah syurga kecil didunia ini. Namun semua itu mungkin tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang telah menikmati semua rasa itu sebelum mereka menikah.

Bisa mnta pin bbm
ReplyDelete