Saturday, March 20, 2010

Melamunkan burung

Tadi pagi saya jalan-jalan ke Kecamatan Tugumulyo, sebuah desa yang rata-rata penduduknya adalah petani dan peternak, hampir disepanjang tepi kiri dan kanan jalan terhampar sawah yang hijau, saya melihat beberapa ekor burung bangau, beberapa diantaranya sedang berjalan diatas sawah, dan sebagian yang lain sedang berterbangan. Mungkin hal ini adalah pemandangan biasa, namun saya sempat memandangi mereka sambil melamun, saya memperhatikan burung-burung itu melipat sayap mereka yang panjang dan lebar menempel rapat dengan ringan ditubuhnya sehingga tidak mengganggu aktifitas mereka didarat, kaki yang panjang membuat mereka dapat berdiri diatas air tanpa tubuh mereka tenggelam, leher yang panjang dan paruh yang besar, tebal dan kuat menjadikan mereka dengan mudah mencari, menangkap dan memakan ikan, kodok dan binatang air lainnya. Rancangan tubuh mereka adalah keajaiban.

Saya juga sempat memperhatikan sekelompok burung-burung pipit kecil yang berbeda dengan burung bangau, mereka memakan sisa-sisa biji padi. Paruh mereka kecil dan tipis namun tajam, kaki mereka pendek, sayap mereka juga pendek dan sempit, namun mereka dapat terbang seketika dengan gesit dan lincah ketika merasa ada gangguan.

Saya ingat pernah menonton film, kalau tidak salah di channel Discovery, Burung Al Batros yang mirip angsa bertubuh besar dan berat terbang dengan cara yang berbeda, berlari dengan kecepatan yang semakin kencang seraya mengepakan dan merentangkan sayapnya lebar-lebar, lalu perlahan tubuhnya naik dan terbang ke udara, mirip seperti pesawat terbang buatan manusia yang sedang lepas landas, burung Al Batros dapat terbang melayang diudara tanpa mengepakan sayap sama sekali dengan memamfaatkan aliran diudara. Sayap dan tubuh burung Albatros dirancang dengan sempurna, bentuknya yang panjang, lebar dan melengkung kebawah memaksimalkan daya tekan keatas dan keseimbangan, bulu tubuhnya yang halus dan rapat meminimalkan gesekan dengan udara yang datang dari arah depan dan suhu yang dingin.

Tulang tulang burung berbeda dengan tulang hewan bertulang belakang lain, jumlah tulang burung lebih sedikit, selain itu tulang burung juga berongga sehingga menjadikan tubuh burung lebih ringan, mirip dengan rancangan pesawat terbang yang menggunakan material-material yang ringan.

Burung penghisap madu terbang dengan frekuensi kepakan sayap 25 kali perdetik sehingga dapat terbang statis dengan stabil seperti pesawat helikopter buatan manusia sehingga dapat menghisap madu bunga tanpa kesulitan.

Burung bangau dapat mendeteksi medan magnet bumi sehingga dapat bermigrasi dari satu tempat ketempat lain yang sangat jauh tanpa tersesat, seperti pesawat terbang buatan manusia yang menggunakan alat kompas.

Saya membandingkan burung dan pesawat terbang dalam fikiran saya yang memiliki persamaan dalam rancangan desain bentuk tubuh dan sayapnya yang aerodinamis.

Dulu sewaktu adik saya masih balita saya pernah bercanda dengan menghadapkan adik saya ke kipas angin listrik yang sedang menyala kencang, akibatnya adik saya menjadi kaget dan susah bernafas, tentunya hal itu hanya sebentar saja, karena saya sangat menyayangi adik saya. saya ingat dulu pelajaran biologi sewaktu bersekolah di SMU, burung memiliki kantung-kantung udara didalam tubuhnya sehingga burung dapat bernapas dengan baik walaupun sedang diterpa angin deras saat terbang.

Jika para ilmuan dan insinyur manusia dengan kecerdasannya dari generasi ke generasi melakukan riset panjang untuk dapat menciptakan berbagai jenis pesawat udara untuk berbagai kebutuhan seperti saat ini. Maka siapakah yang menciptakan berbagai jenis burung-burung sesuai dengan makanan, prilaku dan habitatnya jauh waktu sebelum manusia menciptakan pesawat-pesawat itu? Burung-burung yang tidak mengerti aerodinamika mendapatkan semua itu sejak dalam telurnya.

Walaupun teori evolusi yang pernah saya pelajari di SMU dulu dapat menjelaskan hal ini, namun saya sama sekali tidak mempercayai atau meyakininya. Rancangan tubuh burung adalah keajaiban penciptaan oleh Dzat Yang Maha Cerdas, dan bukanlah peristiwa kebetulan, hal itu sama sekali tidak masuk akal.

Dalam buku Biologi kelas 3 IPA saya pun dijelaskan bahwa teori evolusi juga ditentang oleh banyak ilmuan, salah satunya pakar matematika dan astronom Inggris, Sir Fred Hoyle, membuat perbandingan serupa dalam sebuah wawancara yang disiarkan majalah Nature terbitan 12 November 1981. Meskipun dirinya seorang evolusionis, Hoyle menyatakan bahwa:

“kemungkinan munculnya suatu bentuk kehidupan tingkat tinggi dengan cara (kebetulan) ini dapat disamakan dengan kemungkinan sebuah tornado yang menyapu sebidang lahan pembuangan membentuk sebuah pesawat Boeing 747 dari bahan-bahan yang ada di sana”.
Dialah Allah, Dzat Yang Maha Memciptakan segala sesuatu sesuai ukuran, Dzat Yang Maha Cerdas.

No comments:

Post a Comment