Dulu sewaktu SMU, saya diberi uang jajan oleh orang tua saya, Rp.5.000.- per hari, pergi kemana-mana saya jalan kaki, kalau jaraknya agak jauh saya mengendarai Sepeda Mustang yang dibeli oleh Ayah saya seharga Rp. 125.000.- sewaktu itu tahun 1993, kalau jaraknya jauh, saya naik Angkot, terkadang saya menggunakan Sepeda Motor Honda C-70 rakitan tahun 1977 milik Ayah saya, saya mensyukurinya.
Setelah jadi Polisi, dan memiliki penghasilan, setelah beberapa bulan menabung saya membeli Sepeda Motor Honda Grand rakitan tahun 1995 seharga Rp.5.000.000., saya bersyukur sekali.
Setelah beberapa tahun jadi Polisi, saya mulai melihat sekeliling saya, teman-taman saya banyak memiliki Motor-motor baru, yang performanya jauh lebih baik daripada motor saya. lalu akhirnya saya memberikan Motor saya kepada orang tua saya, dan saya membeli Sepeda Motor yang baru, Honda Mega Pro. Motor ini sangat baik sekali Performanya.
Kini, setelah sekitar lima tahun jadi Polisi, saya melihat sebagian orang-orang mengendarai Sepeda Motor Honda Tiger Revo, saya melihat betapa gagahnya mereka mengendarai Sepeda Motor itu. dan saya ingin sekali memilikinya, dan ingin rasanya saya menjual motor Honda Mega Pro saya dan membeli kembali Motor Honda Tiger Revo, saya membayangkan betapa gagahnya saya kelak jika memiliki Sepeda Motor itu.
Dan beberapa waktu yang lalu, saya melihat mobil-mobil dijalan yang bagus-bagus. Muncul dibenak saya, saya ingin membeli Mobil saja, saya ingin membeli mobil Daihatsu Feroza rakitan tahun 1995, selang beberapa bulan kemudian, timbul lagi dibenak saya, ingin membeli Mobil MPV seperti Isuzu Panther atau Toyota Kijang, atau juga Sedan Toyota atau Mitsubishi.
Namun, lalu terhenyak saya berfikir, mengapa saya begini? Akhirnya saya tersadar, ketika diri saya selalu merasa kekurangan, niscaya saya menjadi orang yang miskin, dan ketika saya selalu merasa cukup, maka niscaya saya kaya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam :
“Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hatinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ketika kita qanaa’ah dan besyukur dengan apa yang Allah anugerahkan kepada kita, Insya Allah, itulah kekayaan yang sebenarnya. dan jika kita serakah, selalu merasa haus dan kekurangan, seberapapun yang kita dapat, kita tidak akan pernah puas, dan jadilah kita orang yang miskin, dan akan lebih celaka lagi, jika kita sampat buta hati nurani.
Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur, amiin
Monday, November 2, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment