Monday, November 2, 2009

Seandainya . . .

Saya pernah mengalami suatu musibah dikarenakan dulu saya pernah berbuat suatu kesalahan, saya menyesali perbuatan saya, saya berfikir, “seandainya dulu saya tidak berbuat kesalahan itu, niscaya musibah ini tidak akan terjadi, seandainya waktu bisa diputar kembali”. Terkadang hal ini menjadi beban fikiran saya, hingga saya menjadi gelisah.

Lalu, suatu ketika saya membuka kembali buku harian saya semasa SMU dulu, saya menemukan catatan sebuah hadits.

Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dan ia selalu dalam kebaikan. Bersemangatlah kamu untuk hal-hal yang bermamfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah. Janganlah lemah dan bila kamu ditimpa suatu musibah. Janganlah berkata: “Seandainya dulu saya berbuat begini , nicaya akan begini atau begini”. Katakanlah: “Ini semua ketentuan Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. Bahwasanya kata ‘seandainya’ itu membuka peluang bagi perbuatan syetan (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Akhirnya saya sadar . . .

Pertama, kita tidak boleh lemah, kita harus tetap kuat dan bersemangat dalam kebaikan, dan juga tetap berbuat sesuatu yang baik dan bermamfaat.

Kedua, Jika kita merasakan kesulitan, maka mintalah pertolongan Allah, dengan tidak melupakan usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut.

Ketiga, Jika kita tertimpa suatu musibah, maka kita harus menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah, dan segala sesuatu kehendak Allah pasti terjadi. Seorang muslim yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah, tentunya harus menerima segala ketentuan-nya. Dengan demikian semoga kita tidak akan mengalami kegoncangan jiwa ketika tertimpa suatu musibah.

Keempat, betapapun kita mengerti sesuatu yang disebut “Taqdir” kita tidak boleh hanya berpasrah menyerah dan berkata, “Aku percaya kepada taqdir, aku tidak akan berusaha, karena apapun yang akan aku lakukan, maka tidak akan bisa merubahnya”. Kalimat ini adalah suatu kelemahan, taqdir adalah rahasia Allah, tidak akan pernah ada manusia yang mampu menjangkaunya, kita tidak akan pernah tahu apa-apa tentang taqdir kita, kecuali setelah terjadi. Segala sesuatu yang terjadi (taqdir) adalah “akibat” dari suatu “sebab”. Seperti seseorang yang memperoleh rizqi yang sedikit hari ini, maka ia tidak pernah tahu apakah besok ia akan memperoleh rizqi yang sedikit atau banyak, seseorang yang memperoleh rizqi (akibat) karena ia berkerja mencarinya (sebab).

Kelima, semua orang tentunya pasti menghindari musibah, namun jika ia mendapatkan musibah, apakah seseorang mendapatkan itu karena keinginannya sendiri? Dan semua orang tentunya pasti menginginkan rizqi yang banyak, namun jika ia mendapatkan rizqi yang sedikit, apakah itu karena keinginannya sendiri? Maka marilah kita senantiasa tetap berusaha mencari rizqi dan menghindari musibah, berdo’a dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Semoga bermamfaat, barakallahu fii kum . . .

No comments:

Post a Comment