Monday, November 2, 2009

Senantiasa bersyukur

Dulu sewaktu SMU, saya diberi uang jajan oleh orang tua saya, Rp.5.000.- per hari, pergi kemana-mana saya jalan kaki, kalau jaraknya agak jauh saya mengendarai Sepeda Mustang yang dibeli oleh Ayah saya seharga Rp. 125.000.- sewaktu itu tahun 1993, kalau jaraknya jauh, saya naik Angkot, terkadang saya menggunakan Sepeda Motor Honda C-70 rakitan tahun 1977 milik Ayah saya, saya mensyukurinya.

Setelah jadi Polisi, dan memiliki penghasilan, setelah beberapa bulan menabung saya membeli Sepeda Motor Honda Grand rakitan tahun 1995 seharga Rp.5.000.000., saya bersyukur sekali.

Setelah beberapa tahun jadi Polisi, saya mulai melihat sekeliling saya, teman-taman saya banyak memiliki Motor-motor baru, yang performanya jauh lebih baik daripada motor saya. lalu akhirnya saya memberikan Motor saya kepada orang tua saya, dan saya membeli Sepeda Motor yang baru, Honda Mega Pro. Motor ini sangat baik sekali Performanya.

Kini, setelah sekitar lima tahun jadi Polisi, saya melihat sebagian orang-orang mengendarai Sepeda Motor Honda Tiger Revo, saya melihat betapa gagahnya mereka mengendarai Sepeda Motor itu. dan saya ingin sekali memilikinya, dan ingin rasanya saya menjual motor Honda Mega Pro saya dan membeli kembali Motor Honda Tiger Revo, saya membayangkan betapa gagahnya saya kelak jika memiliki Sepeda Motor itu.

Dan beberapa waktu yang lalu, saya melihat mobil-mobil dijalan yang bagus-bagus. Muncul dibenak saya, saya ingin membeli Mobil saja, saya ingin membeli mobil Daihatsu Feroza rakitan tahun 1995, selang beberapa bulan kemudian, timbul lagi dibenak saya, ingin membeli Mobil MPV seperti Isuzu Panther atau Toyota Kijang, atau juga Sedan Toyota atau Mitsubishi.

Namun, lalu terhenyak saya berfikir, mengapa saya begini? Akhirnya saya tersadar, ketika diri saya selalu merasa kekurangan, niscaya saya menjadi orang yang miskin, dan ketika saya selalu merasa cukup, maka niscaya saya kaya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam :

“Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kekayaan hatinya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Ketika kita qanaa’ah dan besyukur dengan apa yang Allah anugerahkan kepada kita, Insya Allah, itulah kekayaan yang sebenarnya. dan jika kita serakah, selalu merasa haus dan kekurangan, seberapapun yang kita dapat, kita tidak akan pernah puas, dan jadilah kita orang yang miskin, dan akan lebih celaka lagi, jika kita sampat buta hati nurani.

Semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur, amiin

Tujuan hidup

Kita bangun tidur, mandi, berpakaian, berangkat ke kantor dan bekerja, pulang sore hari, mandi, ganti pakaian dan beristirahat tidur. Lalu kembali bangun, mandi, berpakaian, berangkat ke kantor dan bekerja, jika ada waktu luang, kita bersenang-senang berkumpul atau rekreasi bersama teman-teman, pacar, atau keluarga. Demikian seterusnya dan seterusnya.

Waktu terus berjalan, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun, tanpa terasa umur kita semakin bertambah, sebenarnya apa yang kita cari dalam hidup ini? Kebahagiaan? Bagaimanakah kita mendapatkannya? Apakah kebahagiaan itu? Apakah kebahagiaan itu harta yang banyak? Jabatan yang tinggi? Atau pasangan yang cantik dan anak-anak?.

Kita terlahir didunia ini, dan kelak kita akan meninggalkan dunia ini. Bukankah kita sering melihat bayi yang baru lahir ke dunia ini? Dan bukankah kita sering melihat orang-orang yang meninggal? Apakah hidup ini hanyalah sebatas didunia saja? Tidakkah kita percaya kehidupan setelah mati? Akhirat. Apakah kelak diakhirat kita akan selamat? Apa yang telah kita perbuat didunia ini untuk selamat diakhirat?.

Banyak orang-orang di dunia ini yang tidak merasa bahagia walaupun telah memiliki banyak harta, jabatan tinggi, pasangan yang banyak dan cantik serta memiliki anak-anak. Justru hidupnya tetap terasa hampa. Apa yang mereka usahakan justru terasa jemu setelah didapatkan, tidak pernah merasa puas, mereka merasa dirinya bekerja sebagai budak waktu.

Apa bedanya kita dengan binatang? Hidup tanpa tujuan. Hidupnya hanyalah makan, tidur, bercengkrama dengan pasangan, kawin, dan melahirkan keturunan, atau berusaha menjadi dominan dilingkungannya. Padahal kita telah dianugerahi keutamaan daripada makhluk lain oleh Allah.

“ Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (QS. Al Furqan : 43-44)

Apakah tujuan hidup ini? Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Tidaklah Allah menciptakan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Nya.

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Kesimpulannya, Kita bekerja sebaik-baiknya didunia, namun jangan lupa tujuan penciptaan kita sebagai manusia yaitu untuk mengabdi (ibadah) kepada Allah. Agar kita mendapatkan anugerah, kekokohan iman kepada-Nya, senantiasa bersyukur atas apa yang Ia anugerahkan, dan berserah diri kepada-Nya. Bekerja sebaik-baiknya didunia untuk kebahagiaan didunia dan diakhirat kelak. Itulah kebahagiaan, Insya Allah. Dan inilah sebaik-baiknya do’a bagi seorang muslim.

"Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah : 201)

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi dan Rasul-Nya untuk membimbing manusia ke jalan yang lurus, agar selamat didunia dan diakhirat.

Kewajiban terhadap pasangan

Islam adalah agama yang sempurna, mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk diantaranya rumahtangga. Islam juga telah mengatur tentang berumahtangga. Islam bukanlah agama yang tidak adil terhadap kaum wanita, justru Islam sangat memuliakan kaum wanita.


Allah berfirman :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar

(QS .An Nisa’ : 34)


Kitab Al Qur-an, Surah An-Nisa ayat 34 diatas, bukanlah alasan pembenar bagi seorang suami untuk bersikap dhzalim kepada isterinya. Islam juga bukanlah agama yang tidak adil terhadap kaum wanita, justru Islam sangat memuliakan kaum wanita.

Allah menetapkan Laki-laki sebagai pemimpin bagi kaum wanita, karena Laki-laki dikaruniakan oleh Allah kelebihan, berupa karakteristik dan tanggungjawabnya.

Wanita shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah dan suaminya, memelihara diri dan anak-anaknya ketika suaminya tidak ada, membelanjakan harta suaminya dengan sebaik-baiknya.

Allah telah memelihara dan membantu mereka, Allah memerintahkan mereka untuk dijaga, dan memerintahkan suami untuk memenuhi hak-hak kaum wanita seperti berbuat adil dan baik kepada mereka.

Ketika isteri melanggar komitmen pernikahan, maka haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. Bila cara pertama telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain, janganlah menyusahkan mereka, baik dengan perkataan atau perbuatan.


Rasulullah shalallahu ‘alaih bersabda:

. . . Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan kawanmu yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sandirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka . . .
(Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)


Allah berfirman:

. . . Dan gaulilah mereka (isteri-isterimu) dengan cara sebaik-baiknya . . .

(QS. An Nisa: 19)


. . . Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajiban menurut cara yang baik akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan atas isterinya . . .

(QS. Al Baqarah : 228)


Rasulullah shalallahu’alaih bersabda:
orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya dan orang-orang terbaik di antara kamu adalah yang terbaik kepada istri-istrinya.
(HR. Tirmidzi)


Kewajiban isteri atas suami:

1. Ta’at kepada suami selagi tidak menganjurkan maksiyat kepada Allah, menerima nasihat dan arahannya.

2. Seorang isteri wajib memberikan pelayanan kepada suami berkaitan dengan kebutuhan pribadinya atau rumahtangganya, dan ibadah nafilah menjadi gugur demi menjalankan tugas tersebut.

3. Menjaga perasaan suami dan menciptakan suasana tenang dan kondusif dalam rumahtangga serta membantu meringankan beban dan penderitaan yang menimpanya.

4. Mengingatkan suami tentang kebaikan.

5. Membantu suami dalam memelihara, mendidik dan membimbing anak-anak.

6. Qana’ah dalam hidup, tidak mengajukan tuntutan nafkah atau yang lainnya yang dapat memberatkan suami.

7. Tidak berkhiyanat dalam dirinya, harta benda suami dan rahasia-rahasianya.


Kewajiban suami atas isteri:

1. Memberikan isteri nafkah materi berupa; makanan, pakaian, pendidikan, dan tempat tinggal. Nafkah non materi berupa; menggembirakan isteri dan bersikap lemah lembut dalam bertutur kata.

2. Tidak boleh memberatkan isteri dengan tuntutan diluar kemampuannya. Dan jangan membuat suasana kacau karena masalah sepele.

3. Bermusyawarah dan meminta pendapat isteri dalam menunaikan kebaikan.

4. Memberikan isteri kesempatan untuk berbuat hal yang baik dan bermamfaat.

5. Mengambil waktu yang cukup untuk tinggal dirumah dan berusaha sebaik-baiknya untuk tidak keluar tanpa tujuan dan manfaat.

6. Memberikan isteri perhatian dan perlindungan.

7. Membimbing dan mengajarkan isteri tentang kebaikan.


Allah berfirman :

Dan bergaulah dengan mereka (Isteri) dengan cara sebaik-baiknya. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.

(QS. An Nisa’: 19)


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “ Ya Allah sungguh aku menimpakan kesusahan (dosa ) kepada orang yang menyia-nyiakan hak dua macam manusia yang lemah yaitu: anak yatim dan wanita

(HR. Nasa'i)


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: berbuat baiklah kepada kaum wanita, karena dia diciptakan dari tulang rusuk, dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah bagian yang paling atas, kalau kamu meluruskannya maka kamu telah mematahkannya . . .

(Muttafaq 'alaihi).


Dari Hakim bin Mu'awiyah dari bapaknya bahwa bapaknya berkata: wahai Rasulullah! Apakah hak seorang istri yang harus dipenuhi oleh suaminya? Maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: kamu memberi makan kepadanya jika kamu makan, dan kamu memberinya pakaian jika kamu berpakaian dan engkau tidak memukul mukanya, tidak menjelek-jelekkannya dan tidak meninggalkannya kecuali dalam rumah (jika dia membangkang).

(HR. Abu Daud)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: janganlah seorang mu'min membenci wanita mu'minah, karena jika ia membenci suatu sifatnya, maka dia akan ridha yang lainnya darinya.
(HR. Muslim)


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : orang mu'min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya dan orang-orang terbaik di antara kamu adalah yang terbaik kepada istri-istrinya.

(HR. Tirmidzi)


. . . Ingatlah (hai kaumku), terimalah pesanku untuk berbuat baik kepada para isteri, isteri-isteri itu hanyalah dapat diumpamakan kawanmu yang berada di sampingmu, kamu tidak dapat memiliki apa-apa dari mereka selain berbuat baik, kecuali kalau isteri-isteri itu melakukan perbuatan yang keji yang jelas (membangkang atau tidak taat) maka tinggalkanlah mereka sandirian di tempat tidur dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Kalau isteri isteri itu taat kepadamu maka janganlah kamu mencari jalan untuk menyusahkan mereka . . .

(Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)


Sebagaimana kaum lelaki mempunyai hak atas istri-istri mereka, demikian pula kaum wanita mempunyai hak atas suami-suami mereka, dan tidak akan berlanjut kehidupan suami istri di atas keadilan yang diperintahkan oleh Allah kecuali jika setiap suami dan istri memenuhi hak-hak di antara mereka.


Kesimpulan :

Istri mempunyai hak yang harus dipenuhi oleh suaminya.

Wajib berbuat baik kepada kaum wanita.

Bimbingan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam agar selalu bersabar terhadap wanita dan berlemah-lembut kepadanya.

Bahwa wanita pada suaminya bagaikan tawanan yang lemah, oleh karenanya dia harus dikasihani, dibimbing, dilindungi dan diberikan hak-haknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membebankan dosa kepada mereka yang menyia-nyiakan hak wanita yang berada di bawah tanggungannya.

Bahwa orang yang terbaik di antara kita adalah mereka yang terbaik bagi istri-istrinya.

Ramadhan

Ramadhan, (رمضان) adalah bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah. Sepanjang bulan ini pemeluk agama Islam melakukan serangkaian aktivitas keagamaan termasuk di dalamnya berpuasa, shalat tarawih, peringatan turunnya Al Qur'an, mencari malam Laylatul Qadar, memperbanyak membaca Al Qur'an dan kemudian mengakhirinya dengan membayar zakat fitrah dan rangkaian perayaan Idul Fitri. Kekhususan bulan Ramadhan ini bagi pemeluk agama Islam tergambar pada Al Qur'an pada surat Al Baqarah ayat 185 yang artinya:

"bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda. Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu..."


Etimologi

Ramadhan berasal dari akar kata, yang berarti panas yang menyengat atau kekeringan, khususnya pada tanah. Bangsa Babylonia yang budayanya pernah sangat dominan di utara Jazirah Arab menggunakan luni-solar calendar (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan ke sembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh segatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Di malam hari panas di bebatuan dan pasir sedikit reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadhan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis matahari, bulan Ramadhan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami 'panas'nya Ramadhan secara kiasan. Karena di hari-hari Ramadhan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan. Atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadhan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadhan orang yang berpuasa tak lagi berdosa. Wallahu `alam.

Dari akar kata tersebut kata Ramadhan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadhan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana matahari membakar tanah. Namun kata ramadan tidak dapat disamakan artinya dengan ramadhan. Ramadan dalam bahasa arab artinya orang yang sakit mata mau buta. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadhan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.


Peristiwa penting yang terjadi pada bulan Ramadhan

Perang Badar: 17 Ramadhan 2 AH - Adalah pertempuran pertama yang dilakukan kaum Muslim setelah mereka bermigrasi (hijrah) ke Madinah melawan kaum Quraisy dari Mekkah. Pertempuran berakhir dengan kemenangan pihak Muslim yang berkekuatan 313 orang melawan sekitar 1000 orang dari Mekkah.

Pembunuhan atas Ali bin Abi Thalib: 21 Ramadhan 40 H: Khulafaur Rasyidin keempat dan terakhir, dibunuh oleh seorang Khawarij yang bernama Abdurrahman bin Muljam. Ia meninggal pada tanggal 23 Ramadhan tahun itu juga. Kematiannya menandai berakhirnya sistem kekhalifahan Islam, dan kemudian dimulai dengan sistem dinasti.

Pernikahan itu indah

Ketika melihat para Ikhwan yang baru menikah, aku suka tersenyum. Aku seperti ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar dari wajah mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya jarang tersenyum, setelah menikah ia berubah menjadi murah senyum. Ketika aku tanyakan mengapa? singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri", Ih!

"Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismusendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan rasa kasih akung diantaramu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yangberfikir." (QS. Ar-Rum: 21).

Menikah itu indah, kata seorang Ikhwan dan hanya bisa dirasakan oleh yang sudah menjalaninya. Ketika sudah menikah, semuanya menjadi begitu jelas, alur ibadah suami dan istri. Ibaratkan ketika seseorang baru menikah, dunia menjadi terang benderang, saat itu kicauan burung terdengar begitu merdu. Sepoi angin dimaknai begitu dalam, makanan yang terhidang selalu saja lezat disantap. Mendung di langit bukanlah lagi masalah. Seolah dunia ini milik mereka berdua saja, mengapa? karena semuanya dinikmati berdua. Hidup seperti seolah baru dimulai.

Namun, terkadang akhirnya semua itu lambat laun memudar. Seiring dengan berjalannya waktu. Banyak dari pasangan yang akhirnya tidak sampai ketujuan, Bercerai, sebuah amalan yang diperbolehkan tapi sangat dibenci Allah.

Ketika Allah menjalinkan perasaan cinta diantara suami istri, sungguh itu adalah anugerah yang harus disyukuri. Karena cinta istri kepada suami berbuah ketaatan untuk selalu menjaga kehormatan diri dan keluarga. Dan cinta suami kepada istri menetaskan keinginan melindungi dan membimbingnya sepenuh hati.

Pernah ada, seorang istri memarahi suaminya, sang suami hanya terdiam. Padahal ia baru saja pulang kantor, kelelahan begitu lekat di wajah. Hanya karena masalah kecil, emosi istri meledak begitu hebat. Tapi ternyata di luar dugaan, suami malah mendaratkan ciuman penuh mesra di kening istrinya. Istrinya yang sedang berapi-api pun padam, senyum malu-malunya mengembang kemudian dan merdu suaranya bertutur "Maafkan Ummi ya Bi!" Lalu ia raih tangan suami dan mendekatkannya juga ke kening, rutinitasnya setiap kali suaminya datang.

Beberapa lama kemudian, ada bertanya pada sang suami kenapa ia berbuat demikian. "Aku mencintainya, karena ia istri yang dianugerahkan Allah, karena ia ibu dari anak-anak. Yah karena aku mencintainya".

Pada kesempatan lain, seorang Akhwat pernah berkata kepada seorang temanku, “Seperti itulah jika menikah karena niat Ibadah”

Maha Suci Allah yang telah menciptakan manusia berpasang-pasangan dan menyatukan keduanya dalam taqwa, serta menumbuhkan darinya rasa tenteram dan kasih sayang. Shalawat serta salam semoga selalu allah curahkan kepada teladan umat yang telah mengembalikan harkat manusia kembali pada fitrahnya.

Islam sebagai ajaran yang sesuai dengan fitrah, telah mensyari'atkan adanya pernikahan bagi umatnya. Dengan pernikahan seseorang dapat memenuhi kebutuhan fitrahnya dengan cara yang benar sebagai suami-isteri, lebih jauh lagi mereka akan memperoleh pahala disebabkan telah melaksanakan amal ibadah yang sesuai dengan syari'at Allah.

Pernikahan dalam pandangan Islam, bukan hanya sekedar formalisasi hubungan suami-isteri, pergantian status, serta upaya pemenuhan kebutuhan fitrah manusia. Pernikahan bukan hanya sekedar upacara sakral yang merupakan bagian dari daur kehidupan manusia. Pernikahan merupakan ibadah yang disyari'atkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, maka tidak diragukan lagi pernikahan adalah bukti ketundukan seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya. Allah tidak membiarkan hamba-Nya beribadah dengan caranya sendiri. Allah memberikan tuntunan untuk melaksanakan ibadah ini, sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya (shalat, puasa, zakat, haji, dsb). Maka adalah sebuah kecerobohan, bila hamba-Nya yang ingin melaksanakan ibadah yang suci ini dan menodainya dengan bid'ah dan khurafat, sehingga mencabut status aktivitas itu dari ibadah menjadi mafsadat. Adalah sebuah kemestian bagi setiap muslim untuk berusaha menyempurnakan ibadahnya semaksimal mungkin, tak terkecuali dengan sebuah proses dan kegiatan pernikahan. Kesemuanya itu dilakukan agar hikmah dan berkah ibadah dari ibadah itu dapat dirahmati oleh Allah Azza wa Jalla.


Faidah Pernikahan menurut Islam;

Untuk melestarikan keturunan. Dengan menikah seseorang akan mendapatkan keluarga dan anak-anak yang dapat menggembirakan kehidupannya.

Untuk membentengi diri dari syaitan dan menolak bencana syahwat yang menjerumuskan. Karena sesungguhnya syahwat itu apabila telah bergelora, maka akal tidak lagi mampu berpikir. Bahkan agama juga tidak akan lagi berfungsi.

Kebahagiaan jiwa dan melepaskan kepenatan dari berbagai permasalahan, suami isteri saling menghibur, bercengkrama, bercanda, memandang, jiwa akan menjadi tenang.

Pernikahan sebagai ibadah, dengan menunaikan hak suami-isteri, sabar terhadap sikapnya, memaafkan kesalahannya, berusaha untuk memperbaikinya, memberinya petunjuk ke jalan agama, mencari nafkah di jalan yang halal untuk memenuhi kebutuhannya dan mendidik anak-anaknya. Kesemua itu adalah amal perbuatan yang mulia, utama dan luhur.


Semoga menjadi ‘pengingat’ kita semua dikala kita lupa . . .

Kutukan Tutankhamun

Tutankhamun adalah raja Mesir Kuno yang bertahta dari tahun 1347 SM sampai 1339 SM. Ia masih anak-anak saat diangkat menjadi raja dan meninggal dunia pada usia yang juga masih sangat muda, 18 tahun. Generasi terakhir dari dinasti ke-18 Fir’aun yang memerintah Mesir mulai dari tahun 1567 SM - 1339 SM

Kisah Kutukan ini boleh dikatakan sangat melegenda, khusunya bagi orang-orang yang tertarik dan menyangkut-pautkannya dengan sihir bangsa mesir kuno. Kisah-kisah ini juga terkadang menjadi inspirasi pembuatan film-film Hollywood.

Pertama kali makam tersebut dibuka pada tahun 1922, ditemukan tanda-tanda pada pintu makam bahwa makam tersebut mungkin pernah dicoba beberapa dibuka sebelumnya. para jurnalis melaporkan ada prasasti di dekat pintu makam yang Raja Tutankhamun ini yang berbunyi:

“Kematian akan segera mendatangi mereka yang menyentuh makam Pharaoh”.

Keliatannya memang konyol, namun peringatan ini nampaknya terbukti benar, ketika semua arkeolog dan para pekerja yang menyentuh makam Tutankhamun dilaporkan meninggal secara misterius dan mengerikan dalam tempo yang tidak terlalu lama setelah peristiwa pembongkaran makam itu terjadi.

Pada bulan November 1922, seorang arkeolog bernama Howard Carter, akhirnya menemukan makan Tutankhamun setelah menghabiskan tujuh tahun lamanya dan merasa frustasi mencari di lembah raja-raja, Luxor. Howard Carter segera mengundang orang yang telah mendanai proyeknya, Lord Carnarvon, untuk datang ke situs tersebut dalam acara pembukaan makam. Carter dan Carnarvon datang pada sore hari tanggal 24 November, Dan dengan menggunakan cahaya lilin, Carter melongok ke dalam. Lord Carnarvon bertanya, ” Dapatkah kamu melihat semuanya?”. Carter menjawab,” Ya, barang-barang yang menakjubkan.”

Di sana, di ruang depan, ada harta karun yang sungguh luar biasa. Bahkan ada lebih banyak lagi di ruang dalam, yang membutuhkan waktu tiga bulan untuk memasukinya. Lord Carnarvon sendiri yang membuka pintu dalam ini pada tanggal 17 Februari 1923. Mumi Raja Tutankhamun terbaring di dalam tiga peti mati. Dua peti mati yang berada paling luar terbuat dari emas yang dipasang pada rangka kayu. Sementara peti mati yang paling dalam semuanya terbuat 300 pound emas murni. Didalam peti emas itu terbaring sesuatu yang lebih menakjubkan. Mumi itu ditutupi oleh topeng kematian dari seseorang raja anak laki-laki. Mumi Tutankhamun terbaring di bawah 13 lapis kain linen. Setelah Carter melepasnya, dia menemukan seuntai kalung tersembunyi didalamnya untuk mengusir iblis.

Selama berabad-abad damar dan minyak yang digunakan untuk membuat mumi telah berubah menjadi lem yang merekatkan kain linen. Untuk melepaskan kalung itu, Carter melakukan tindakan radikal, yaitu dengan memotong-motong mumi.

Dalam 14 hari, 2 dari orang-orang yang terlibat meninggal secara mendadak. Bahkan pada tahun 1929, 13 orang meninggal karena sebab yang tidak jelas.

Lord Carvarnon meninggal pada tanggal 6 April 1923 karena pneumonia, komplikasi akibat gigitan nyamuk yang terinfeksi. Kemudian para jurnalis menemukan prasasti di dekat pintu makam tentang peringatan mengenai kematian tadi. Mereka kemudian mengatakan bahwa “Kutukan Fir’aun Tutankhamun-lah yang membunuh Lord Carvarnon”. Menyusul kemudian, Lady Carnarvon, yang meninggal menyusul suaminya dengan sebab kematian yang juga tidak jelas.

Di tahun yang sama, seorang meninggal secara mendadak setelah mengunjungi makam ini dan dianggap merupakan ulah “kutukan” juga. Ia adalah Pecky Callender, yang membantu Carter memasuki makam. Kematian misterius juga dialami oleh salah seorang pengusaha kaya yang berkunjung ke makam Tutankhamun, George Jay Gould. Untuk tour mahalnya ini, Gould harus membayar mahal. Malam hari setelah mengunjungi makam, ia terkena demam, dan esoknya ia meninggal dunia.

Harta karun Raja muda ini dipamerkan di banyak museum di seantero dunia. Ketika Arthur C Mace dari Metropolitan Museum of Art di New York, dan George Benedite dari Museum Louvre, Paris, juga meninggal dunia secara misterius setelah memamerkan harta karun tersebut di Museum mereka, Kembali, “Kutukan Tutankhamun” yang dikatakan penyebab atas meninggalnya dua orang tersebut. Kutukan itu kembali beraksi dan menjadi dipermasalahkan atas kematian orang-orang yang sedikit sekali terlibat dengan ekspedisi ini. Contohnya sekertaris pribadi Howard Carter yang bernama, Robert Bathnell juga meninggal dunia secara misterius. Tiga bulan kemudian, ayah Bathell, Lord Westbury melompat dari lantai 7 dan tewas. Ia meninggalkan pesan, meyalahkan kutukan Tutankhamun atas kematian anaknya.

Tidak hanya berakhir disitu, saat dalam perjalan ke makam, kereta jenazah Lord Westbury menabrak seorang anak 8 tahun. Anak itu tewas seketika, begitu juga dengan salah seorang pegawai British Museum dalam bidang Egyptology. Selama tiga dekade kutukan itu tak menyerang hingga terakhir kali tempat peristirahatan Tutankhamun diganggu. Hingga saat ini, terhitung kurang lebih 25 orang yang telah meninggal dunia dengan disangkut pautkan dengan kutukan Tutankhamun. Yang terakhir kalinya menimpa seorang wisatawan Sheryl Munson di tahun 1995 silam.

Dalam film-film Hollywood yang mungkin terinspirasi dari cerita-cerita ini, Mumi Fir’aun mendatangi dan membunuh mereka satu persatu, bahkan ada film yang mengisahkan bahwa Mumi Fir’aun itu mengambil bagian tubuh mereka untuk dapat bangkit kembali dari kematian.


Sudut Pandang Ilmiah

Banyak ilmuwan mulai menelaah kutukan fir’aun dari sudut pandang ilmiah. James Randi, pemain sulap terkenal, dalam bukunya Encyclopedia of Claims, Fraunds and Hoaxes of the Occult and Supranatural, menuliskan nama-nama semua orang Eropa yang hadir ketika makam Tutankhamun dibuka dan kapan mereka meninggal dunia dalam “Tabel aktuaria”. Tabel ini memberi nilai harapan hidup kita, didasarkan pada dimana tempat tinggal kita, apakah merokok atau tidak, dan sebagainya. Randi memeriksa tabel aktuari yang relevan untuk semua orang yang dihubungkan dengan makam Raja Tutankhamun, dan siapa yang meninggal berikutnya.

Ternyata, orang-orang yang hadir dalam pembukaan makam, hidup satu tahun lebih lama dibandingkan ramalan tabel aktuaria. Howard Carter meninggal pada usia wajar, yaitu 66 tahun. Dr. Douglas Derry, yang membedah mumi, meninggal pada usia lebih dari 80 tahun. Dan Alfred Lucas, ahli kimia yang menganalisis jaringan tubuh mumi, meninggal pada usia 79 tahun.

Penelitian lain menunjukkan tidak ada pengaruh nyata pada harapan hidup orang-orang yang terlibat pada penggalian tersebut. Jadi dapat disimpulkan, kutukan itu adalah bohong atau sama sekali tidak pernah ada.

Penelitian ilmiah berusaha mengungkap siapa pelaku pembunuhan yang sebenarnya, dan ternyata pelakunya sebenarnya terdapat pada dinding makam. Para korban mungkin tidak meyadari bahwa di dinding-dinding makam yang penuh dengan ornamen-ornamen indah itu ternyata tersembunyi ribuan bahkan jutaan lebih pembunuh mematikan yang telah berumur 3000 tahun. Dinding-dinding itu diselimuti oleh jamur. Bakteri mungkin timbul dari plester atau cat dan hidup dari kelembaban plester setelah makam ditutup. Dan, pembunuh sebenarnya adalah bakteri mematikan yang bernama “aspergillus niger”. Dalam makam yang hangat, bakteri yang menyerang sistim pernapasan ini berkembang. Ia satu-satunya makhluk yang dapat bertahan hidup selama 3000 tahun di makam itu. Saat Shryl Munson, korban terakhir yang meninggal setelah berkunjung ke makam tiba dengan ketahanan tubuh yang rapuh, maka ia adalah rumah utama bagi jamur itu. Spora itu terhisap dan menyerang sel yang lemah, menghancurkannya selagi menyebar. Sheryl Munson kekurangan oksigen, 10 hari setelah masuk rumah sakit, fungsi paru-parunya berhenti. Tim dokter menemukan jamur “aspergilllus niger” pada saat melakukan biopsi paru-paru Sheryl Munson dan jamur mematikan ini ditemukan lebih banyak lagi di dalam makam Tutankhamun, terutama di dinding makam. Sheryl ternyata telah melakukan suatu hal yang sangat fatal bagi hidupnya pada saat mengunjungi makam Tutankhamun. Ia menyentuh dinding makam dan mengusap-usapkan jemari tangannya ke beberapa lukisan cat, dimana disana telah menunggu bakteri yang sangat mematikan untuk bermigrasi ke dalam tubuhnya.

Begitu juga dengan orang-orang yang terlibat dalam pembongkaran makam. Bekerja dengan mumi bisa fatal, baik bagi peneliti dan muminya. Tindakan gegabah Howard Carter yang memotong-motong tubuh mumi berakibat sangat fatal bagi mereka yang terlibat. Karena peneliti bisa menghisap spora dari debu mumi. Sebaliknya, peneliti bisa memberikan bakteri atau kelembaban pada permukaan mumi yang bisa mengakibatkan pembusukan.

Walaupun sudah mati selama ribuan tahun, mumi hidup bersama bakteri. Beberapa tak berbahaya, namun beberapa lagi sangat mematikan. Tidak memakai pelindung saat bekerja dengan mumi, akan sangat rentan terinfeksi oleh spora jamur. Dan itulah yang terjadi pada Carter dan orang-orang disekelilingnya. Otopsi gegabah terhadap mumi Tutankhamun ternyata melepas banyak pembunuh mengerikan yang kasat mata. Parahnya, pada saat otopsi itu berlangsung, Carter dan rekan-rekannya tidak memakai pelindung apapun, mereka hanya memakai pakaian sehari-hari. Jadi mungkin terjadi persilangan kerusakan antara para peneliti dan mumi. Namun banyak orang yang beruntung seperti Carter yang tidak terinfeksi bakteri ini.

Tausiyah singkat pernikahan

Pagi tadi saya menghadiri acara resepsi pernikahan teman saya, pada sesi ceramah pernikahan, penceramah mengulas kisah manusia pertama, Nabi Adam ‘alaihi salam. Saya jadi ingin mengulasnya kembali dan sedikit berbagi pengetahuan dengan teman-teman, semoga bermamfaat, terlebih untuk diri saya sendiri.

Pernikahan adalah perintah ibadah syari’at yang paling pertama, setelah Adam diciptakan oleh Allah, ia tinggal disyurga, segala kenikmatan telah ada disana, namun ia merasa kesepian sendiri tanpa teman, suatu ketika ia melihat sepasang binatang disyurga yang sedang bercanda, sehingga hatinya semakin sangat merindukan pasangan.

Lalu Allah menciptakan seorang wanita, dalam suatu riwayat yang pernah saya baca, Adam memberikannya nama “Hawa” yang artinya “keinginan”, ketika Adam melihat Hawa untuk pertama kalinya, secara naluri timbulah birahinya, ia ingin memeluk dan menciumnya, namun Allah melarang Adam untuk menyentuhnya hingga Allah menikahkan mereka berdua.

Lalu mereka berdua hidup bahagia disyurga, namun satu hal, Allah melarang mereka untuk mendekati satu pohon. Kemudian datanglah Iblis membujuk Adam untuk memakan buah dari pohon itu, Iblis menjanjikan keabadian disyurga. Namun apa yang dilakukan Iblis itu sia-sia, Adam tidak terbesit sama sekali. Iblis tidak putus asa, lalu ia mendekati dan membujuk Hawa, dan usahanya berhasil, dan lalu Hawa membujuk Adam, dan akhirnya mereka berdua melanggar larangan Allah.

Setelah mereka memakan buah itu, tiba-tiba pakaian mereka lenyap. Seketika mereka berdua menyadari apa yang telah mereka lakukan, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Allah mengampuni mereka berdua.


Dari kisah singkat diatas, kita bisa mengambil hikmah:

Pertama, betapapun kita memiliki segalanya, maka kita tetaplah kesepian, kita selalu membutuhkan pasangan.

Kedua, tidak halal bagi seorang Laki-laki menyentuh seorang wanita hingga ia menikahinya, bukan karena Islam mengekang manusia dari kebutuhannya, namun dengan pernikahan kedua manusia yang berlainan jenis, diikat dengan komitmen dan tanggung jawab, yang menjadikan hak dan kewajiban diantara keduanya, maka menjadi halal apa yang sebelumnya haram.

Ketiga, wanita adalah salah satu kelemahan Laki-laki, betapun ia kuat, ia bisa ditaklukan oleh seorang wanita yang terkadang sebagian orang menyebutnya makhluk yang lemah. Untuk Suami, hendaknya membimbing isterinya agar tetap istiqamah, dengan cara yang baik, karena hati wanita itu cenderung lebih lemah. Dan untuk Isteri, janganlah menuntut, mendorong dan menjerumuskan suami untuk melakukan sesuatu hal yang haram demi keinginan. Tetaplah Istiqamah, dan yakinlah bahwa rizki telah ada ketetapannya dari Allah. Karena Iblis dan bala tentaranya, syetan dari kalangan jin dan manusia akan selalu berusaha menjerumuskan manusia untuk ingkar kepada Allah dengan janji-janji palsu.

Keempat, Maha suci Allah, Dzat Yang Maha Cerdas, yang telah menciptakan segala sesuatu dengan sempurna. Ia menciptakan Adam dengan sifat-sifat manusianya. Ketika ia merasa kesepian dan merindukan pasangan, Allah menciptakan pasangan untuknya. Ketika mereka berdua berbuat salah, Allah mengampuni mereka. Dan mereka berdua turun kedunia, bukan karena akibat dari kesalahan mereka, namun memang Allah sebelumnya menciptakan manusia untuk menjadi khalifah didunia. Segala sesuatu yang terjadi adalah karena kehendak Allah, dan segala sesuatu yang Allah kehendaki pasti akan terjadi.

Barakallahu fii kum

Seandainya . . .

Saya pernah mengalami suatu musibah dikarenakan dulu saya pernah berbuat suatu kesalahan, saya menyesali perbuatan saya, saya berfikir, “seandainya dulu saya tidak berbuat kesalahan itu, niscaya musibah ini tidak akan terjadi, seandainya waktu bisa diputar kembali”. Terkadang hal ini menjadi beban fikiran saya, hingga saya menjadi gelisah.

Lalu, suatu ketika saya membuka kembali buku harian saya semasa SMU dulu, saya menemukan catatan sebuah hadits.

Rasulullah bersabda, “Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah dan ia selalu dalam kebaikan. Bersemangatlah kamu untuk hal-hal yang bermamfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah. Janganlah lemah dan bila kamu ditimpa suatu musibah. Janganlah berkata: “Seandainya dulu saya berbuat begini , nicaya akan begini atau begini”. Katakanlah: “Ini semua ketentuan Allah dan apa yang Dia kehendaki pasti terjadi”. Bahwasanya kata ‘seandainya’ itu membuka peluang bagi perbuatan syetan (HR. Muslim dan Ibnu Majah)

Akhirnya saya sadar . . .

Pertama, kita tidak boleh lemah, kita harus tetap kuat dan bersemangat dalam kebaikan, dan juga tetap berbuat sesuatu yang baik dan bermamfaat.

Kedua, Jika kita merasakan kesulitan, maka mintalah pertolongan Allah, dengan tidak melupakan usaha untuk keluar dari kesulitan tersebut.

Ketiga, Jika kita tertimpa suatu musibah, maka kita harus menyadari, bahwa segala sesuatu yang terjadi adalah atas kehendak Allah, dan segala sesuatu kehendak Allah pasti terjadi. Seorang muslim yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah, tentunya harus menerima segala ketentuan-nya. Dengan demikian semoga kita tidak akan mengalami kegoncangan jiwa ketika tertimpa suatu musibah.

Keempat, betapapun kita mengerti sesuatu yang disebut “Taqdir” kita tidak boleh hanya berpasrah menyerah dan berkata, “Aku percaya kepada taqdir, aku tidak akan berusaha, karena apapun yang akan aku lakukan, maka tidak akan bisa merubahnya”. Kalimat ini adalah suatu kelemahan, taqdir adalah rahasia Allah, tidak akan pernah ada manusia yang mampu menjangkaunya, kita tidak akan pernah tahu apa-apa tentang taqdir kita, kecuali setelah terjadi. Segala sesuatu yang terjadi (taqdir) adalah “akibat” dari suatu “sebab”. Seperti seseorang yang memperoleh rizqi yang sedikit hari ini, maka ia tidak pernah tahu apakah besok ia akan memperoleh rizqi yang sedikit atau banyak, seseorang yang memperoleh rizqi (akibat) karena ia berkerja mencarinya (sebab).

Kelima, semua orang tentunya pasti menghindari musibah, namun jika ia mendapatkan musibah, apakah seseorang mendapatkan itu karena keinginannya sendiri? Dan semua orang tentunya pasti menginginkan rizqi yang banyak, namun jika ia mendapatkan rizqi yang sedikit, apakah itu karena keinginannya sendiri? Maka marilah kita senantiasa tetap berusaha mencari rizqi dan menghindari musibah, berdo’a dan serahkan hasilnya kepada Allah.

Semoga bermamfaat, barakallahu fii kum . . .

Thursday, January 22, 2009

Salafiy

Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabi'in dinamakan As-Salafush Shalih. “As-Salaf Ash-Shalih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk Rasulullah dan menjaga sunnahnya”.

Penisbatan Salafiyah kepada Salaf adalah penisbatan terpuji kepada manhaj yang benar dan sama sekali bukanlah madzhab baru yang dibuat-buat. Salafiyah adalah sikap atau pendirian para ulama Islam yang mengacu kepada sikap atau pendirian yang dimiliki para ulama generasi salaf itu. Kata salafiyah sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti 'terdahulu', yang maksudnya ialah orang terdahulu yang hidup semasa dengan Nabi Muhammad SAW, Sahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in.

Manhaj Salaf, Arti kata Manhaj adalah Sebuah jalan yang terang lagi mudah.‎ Maka manhaj salaf adalah: Suatu jalan yang terang lagi ‎mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut ‎tabi’in di dalam memahami Agama Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang ‎mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. ‎ ‎

Orang-orang yang mengikuti manhaj salaf (Salafiyyun) disebut dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah ‎dikarenakan berpegang teguh dengan Al Quran dan As Sunnah dan bersatu di atasnya. Disebut pula dengan ‎Ahlul Hadits wal Atsar dikarenakan berpegang teguh dengan hadits dan atsar di saat orang-orang banyak ‎mengedepankan akal. Disebut juga Al Firqatun Najiyyah, yaitu golongan yang Allah selamatkan dari neraka ‎disebut juga Ath Thaifah Al Manshurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah.‎

Manhaj salaf dan Salafiyyun tidaklah dibatasi (terkungkung) oleh organisasi tertentu, daerah tertentu, ‎pemimpin tertentu, partai politik tertentu, dan sebagainya. Bahkan manhaj salaf mengajarkan kepada kita bahwa ‎ikatan persaudaraan itu dibangun di atas Al Quran dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ‎dengan pemahaman Salafush Shalih. Siapa pun yang berpegang teguh dengannya maka ia saudara kita, ‎walaupun berada di belahan bumi yang lain. Suatu ikatan suci yang dihubungkan oleh ikatan manhaj salaf, ‎manhaj yang ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya.‎

Mereka sangat mencintai Sunnah, dan menjauhi perkara yang tidak disyariatkan dalam agama Islam yaitu Bid'ah.

Para Ulama yang Tergolong Salaf, Al Bukhary, Muslim, Abu Daud, Abu Hatim, Abu Zur'ah, At-Tirmidizy, dan An-Nasa'i.