Saturday, March 20, 2010

Antara Ibadah dan Maksiyat

Suatu hari saya berkunjung melihat kebun karet milik saya disebuah desa yang sedang dilaksanakan pembangunan oleh pemerintah setempat. Sebagian masyarakat desa itu sangat beruntung karena lahan yang mereka miliki harga jualnya meningkat cukup drastis.

Lalu saya bertemu dengan seorang tua yang baru saja kaya karena menjual kebun karetnya.

"Wah, kakek sudah kaya ya sekarang" sapaku, ia hanya tertawa kecil, "Naik haji kek" lajutku

"nantilah, orang yang naik haji itu hati harus bersih" jawabnya, saya hanya tersenyum mendengar jawabannya seperti itu.

Dilain tempat dan waktu, saya pernah beberapa kali mengajak seseorang untuk shalat berjama'ah, menghadiri majelis ta'lim, silaturrahim dengan seorang ustadz, seseorang itu menolak dengan alasan yang maknanya tidak jauh dari kalimat "nantilah, kelakuanku masih belum baik". Saya juga pernah mendengar beberapa orang teman-teman saya berkumpul mencela seseorang yang sedang berangkat ke masjid untuk shalat, "ah, sok alim, shalat ke masjid, padahal masih gemar ... ". Pernah juga ada seorang wanita yang mengatakan kepada saya bahwa sebenarnya ia ingin berjilbab karena tahu hukumnya wajib, namun ia belum melaksanakannya dengan alasan ia khawatir jika perbuatannya sehari-hari tidak sesuai dengan jilbab yang ia kenakan. 

Saya berfikir sejenak, mungkin benar, misalnya apa gunanya melaksanakan shalat jika masih melaksanakan maksiyat juga, bukankah lebih baik tidak usah shalat sekalian? Lalu kemudian saya berfikir kembali, siapa sih yang tidak pernah berbuat dosa selain Rasulullah Shalallahu 'alaih? Jawabannya tidak ada, ... eh ... ada, yaitu orang yang sudah mati, iya benar hanya orang yang sudah mati yang tidak akan pernah berbuat dosa lagi, he he he.

Tidak ada manusia benar-benar bersih hatinya, dan tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat dosa, namun sebaik-baiknya mereka adalah yang senantiasa bertaubat, lalu berbuat dosa lagi, dan bertaubat lagi, lalu berbuat dosa lagi, dan bertaubat lagi, dan seterusnya.

Semoga bermamfaat, amiin!

Diriku apa adanya

Beberapa waktu yang lalu, saya diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah majelis kajian keislaman disuatu masjid, sebenarnya ini bukanlah hal baru atau pertama bagi saya, dahulu saya pernah menjadi seorang murab (pendidik) dan memiliki belasan orang mutarab (yang dididik).

Saya merasa bersyukur sekali, dengan demikian saya kembali membuka-buka catatan-catatan lama, dan mengingat kembali tentang banyak hal yang pernah saya dapatkan dan memberikannya kembali kepada orang lain, saya sangat bahagia bisa memberikan hal yang baik dan bermanfaat untuk umat (ciyee!, sekelompok kecil umat berjumlah beberapa puluh orang dimajelis maksudnya, he he he . . . )

Suatu ketika, ada seseorang yang mengetahui kegiatan saya ini, ia mengatakan kepada saya, “Kamu tidak pantas!, tidak sesuai dengan kelakuanmu!”. Saya merasa sangat terhenyak dengan perkataan itu. Disatu sisi saya merasa sangat tersinggung, namun saya berusaha bersikap biasa saja, namun disisi lain saya merasa, “Mungkin apa yang ia katakan adalah benar”. Memang saya tidak pantas memberikan materi dimajelis kajian keislaman, karena memang apa yang saya sampaikan tidak sesuai dengan kelakuan saya. Saya berfikir, mungkin sebaiknya saya berhenti menulis atau memberikan tausiyah atau menolak jika diundang lagi untuk memberikan materi di majelis kajian keislaman.

Namun beberapa hari kemudian, saya teringat masa lalu saya ketika saya masih sangat rajin mengikuti kajian-kajian keislaman. Saya pernah belajar dan dekat dengan seorang murab, awalnya ia adalah seseorang yang sangat saya kagumi ilmunya, keimanannya dan akhlaqnya, suatu ketika saya melihat murab saya melakukan suatu kesalahan, saya merasa sebagai murab hal itu adalah tercela dan tidak pantas ia lakukan, ia juga ternyata bukanlah seseorang yang tinggi ilmunya, kuat imannya, dan mulia akhlaqnya seperti yang saya kira, saya kecewa dan mulai menjaga jarak dengannya. Beberapa waktu kemudian saya belajar dengan murab yang lain, dan hal demikian juga terulang kembali. Begitu juga seterusnya ketika saya pindah belajar dengan murab yang lain, kalaupun tidak terlihat aibnya pada saat itu, maka saya akhirnya mengetahuinya kemudian hari.

Hingga suatu ketika, seorang murab saya menyampaikan bahwa sifat “Figuritas” adalah sifat yang tercela, murab saya menjelaskan panjang lebar tentang sifat buruk ini, dan pentingnya “Istiqamah” (keteguhan hati). Dilain waktu dan kesempatan saya juga mencoba berusaha banyak belajar tentang hal ini.

Dan akhirnya saya sadar, semua itu semestinya tidak boleh menghalangi saya untuk tetap belajar ilmu kepada mereka.

Siapapun dia, murab, ustad, bahkan ‘ulama besar dimasa generasi terbaik umat terdahulu sekalipun (Salafiyyin), mereka bukanlah Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘alaihi, mereka bukan manusia sempurna yang terpelihara dari perbuatan dosa, mereka bukan malaikat yang tidak bisa lupa, lalai atau khilaf. Mereka adalah manusia biasa yang sama persis seperti saya.

Para ‘ulama’ yang semoga Allah memuliakan mereka adalah para pewaris Rasulullah shalallahu ‘alaih, mereka berda’wah menjaga kemurnian agama, menyebarkan ajaran untuk membimbing manusia kejalan yang lurus, bahagia didunia dan diakhirat kelak. Terlepas dari semua itu, mereka adalah manusia biasa yang tidak akan pernah luput dari kelalaian, dan kekhilafan. Namun kesalahan-kesalahan mereka adalah untuk diri mereka sendiri pribadi. Kita tidak pernah diajarkan untuk berittiba’ (mengikuti) mereka, justru berittiba’ apalagi jika secara fanatik kepada mereka adalah hal yang tercela dan bagian dari sifat orang-orang kafir sebelum islam datang, namun kita diperintahkan untuk berittiba’ kepada Allah dan Rasul-Nya shalallahu ‘alaih, Al Qur-an dan As Sunnah.

Agama ini telah sempurna, tidak lagi memerlukan pengurangan atau penambahan. Wajib hukumnya bagi masing-masing kita untuk belajar menuntut ilmu kepada ahli ilmu yaitu para ‘ulama’ tentang dua perkara diatas, kelalaian atau kekhilafan mereka adalah untuk diri pribadi mereka sendiri, dan kelak mereka akan dimintakan pertanggungan jawab oleh Allah atas diri mereka sendiri, sebaliknya yang mereka perbuat untuk untuk umat ini semoga akan mendapatkan kemuliaan disisi Allah.

Tentang hal yang mereka berikan kepada umat, jika adalah suatu kesalahan atau kesesatan maka sebenarnya telah jelaslah “Al Furqan” (pembeda) antara “Al Haq” (kebenaran) dan “Al Bathil” (kesalahan) namun hanya bagi orang-orang yang berilmu, sesuai yang telah disampaikan oleh Al Qur-an dan As Sunnah. Jika mereka para ‘ulama’ berijtihad, maka Ijtihad yang salah sekalipun mendapatkan satu pahala, dan Ijtihad yang benar mendapatkan dua pahala. Semoga akan selalu terus ada sekelompok kecil umat yang menjaga kemurnian agama ini hingga menjelang hari qiyamah.

Saya mencoba dan berusaha berbuat baik, saya sangat yakin setiap perbuatan baik sekecil apapun akan dinilai oleh Allah, dan berbuat jahat sekecil apapun juga akan dinilai oleh Allah. Saya kira berbuat salah tidak boleh menghalangi seseorang untuk berbuat baik, setiap manusia tidak akan pernah luput dari perbuatan dosa, dan sebaik-baik mereka yang berbuat dosa adalah mereka yang mengiringi perbuatan dosa itu dengan taubat, berbuat dosa kembali dan bertaubat kembali, dan seterusnya.

Saya hanyalah seseorang yang baru ingin belajar agama kemarin sore, saya sadar sepenuhnya saya tidak layak disebut murab, apalagi ustadz, apa yang saya berikan juga tidak pantas dengan amalan saya sehari-hari yang gemar melakukan perbuatan dosa. Namun saya akan tetap mencoba berusaha berbuat hal yang saya anggap baik dan bermanfaat.

Perkataan seseorang seperti diatas adalah nasihat bagi saya, dan ketika saya merasa risau, saya pertanyakan kembali kepada diri saya sendiri, bukankah saya melakukannya dengan niat untuk mendapatkan ridha dari Allah? Oleh karena itu biarkan Allah-lah yang akan menilainya.

Saya ingat tentang perkataan seseorang, “jika orang-orang memuji kebaikan kita, maka sebenarnya Allah sedang menutupi kejelekan-kejelekannya.” Oleh karena itu sebenarnya saya merasa sangat tidak nyaman ketika ada seseorang yang memuji-muji kebaikan saya, semoga hal itu tidak menjadikan saya lupa dengan kejelekan-kejelekan saya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tetap Istiqamah dijalan-Nya, amiin!

Pacaran

Pertama kali seorang cowok melihat seorang cewek, ia melihat makhluk yang begitu indah, timbulah keinginannya untuk memiliki makhluk itu, ia mendekatinya. Sang cewek menyambut sang cowok dengan hati terbuka lebar, ia melihat sang cowok yang gagah, dan ia ingin dijaga dan dilindungi. Lalu sang cowok menyatakan perasaan cintanya kepada sang cewek, ia mengutarakan keinginannya agar sang cewek menjadi kekasihnya, dan sang cewek pun dengan senang hati menerimanya. Cinta itu terasa ajaib, mereka senang berkumpul bersama, melakukan segala sesuatu bersama, dan saling berbagi rasa. Mereka saling mempelajari, menghargai, menjajagi, dan menghargai kebutuhan-kebutuhan, kesukaan-kesukaan, serta pola-pola tingkah laku keselarasan. Kemesraan dan keromantisan, cumbuan dan rayuan sangat begitu indahnya seolah-olah dunia ini adalah syurga bagi mereka berdua. Inilah yang disebut oleh orang-orang “jatuh cinta”. Mereka menjalin suatu hubungan yang disebut "pacaran".

Terkadang, Cinta suci yang diikrarkan lambat laun berubah menjadi cinta birahi. Akhirnya mereka akan dengan mudah terhanyut dalam aktivitas seperti (saya buat istilah agar terbaca lebih halus) Kissing, Necking, Petting, hingga (maaf) Intercousing. Dari sekadar sedikit sentuh-sentuhan atau pegang-pegangan hingga ke perzinahan.

Terkadang pula, seiring berjalan waktu, yang pada awalnya segala sesuatu indah dan menyenangkan. Seketika berubah. Salah satunya ingin lepas karena bosan jenuh, ingin mencari yang lebih baik, tidak percaya, tidak dapat menerima kekurangan, dan sebagainya. Dan salah satunya lagi dikhianati, dikekang, ditinggalkan, dihiraukan dan lain-lain sebagainya. Dan akhirnya hubungan pacaran mereka putus.

Sebagian diantara mereka lalu menjalin hubungan pacaran dengan orang lain lagi dan mengulangi kisah yang sama berkali-kali sebelum akhirnya mereka menikah.

Sekarang yang menjadi pertanyaan besar adalah, “Kemanakah cinta yang indah, yang diagung-agungkan dan yang disakralkan itu? Kemanakah semua kata-kata, dan janji-janji setia dan cinta itu? Kemanakah komitmen cinta itu?” Bagi sebagian mereka, semua itu seketika berubah menjadi bencana, kedukaan, kemalangan, kesedihan, trauma dan keputus asaan. Cinta mereka ternyata hanyalah semu belaka.

Mereka semua telah salah jalan, mengotori hati dan tubuhnya karena memberikan sesuatu yang belum menjadi haknya dan melaksanakan sesuatu yang belum menjadi kewajibannya. Tidak ada ikatan dan komitmen.

Oleh karena itu, hukum berpacaran dalam syari’at Islam adalah “HARAM”, tidak terbantahkan, dan tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ‘ulama’ manapun tentang hal ini.

Tentang perkataan sebagian orang-orang yang menyatakan pacaran hanyalah jalan untuk saling kenal-mengenal adalah perkataan yang lemah, karena saling kenal-mengenal tidak harus dengan pacaran.

Sangat banyak sekali pasangan muslim menikah dengan niat ibadah karena Allah, dan tanpa melalui pacaran, mereka hidup sangat bahagia bersama dan sangat sukses membangun rumah tangga. Dan sebaliknya pacaran yang dijalin dengan indah tidak akan pernah menjamin pernikahan yang juga indah.

Islam melarang pacaran bukan berarti mengekang rasa cinta kepada lawan jenis. Justru Islam memuliakan rasa cinta itu jika penyalurannya sesuai pada tempatnya. Sebab Allah menciptakan rasa itu pada diri manusia unruk melestarikan jenisnya dengan kejelasan nasab. Karena itu hanya satu jalan yang diridhai Allah, sesuai bimbingan Rasulullah shalallahu ‘alaih, dan pastinya sesuai pada tempatnya. Yaitu melalui pernikahan.

Karena dengan pernikahan kedua manusia yang berlainan jenis, diikat dengan komitmen dan tanggung jawab, yang menjadikan hak dan kewajiban diantara keduanya, maka menjadi halal apa yang sebelumnya haram.

Islam ingin membimbing manusia kepada kesucian (fitrah) hati dan keturunan (nasab). Cinta sejati adalah cinta yang terjalin setelah menikah, cinta sebelum menikah adalah cinta yang semu yang tidak patut untuk agungkan atau disakralkan, semestinya ia tidaklah lebih dari rasa simpati.

Tidakkah begitu suci dan indah jika cinta pertama dan terakhir itu diberikan kepada orang yang sangat tepat yaitu suami / isteri? Alangkah indahnya rumah tangga dan alangkah indahnya hidup! Itulah cinta sejati yang sebenarnya. Oleh karena itulah Rasulullah pernah bersabda, "Rumahku adalah syurgaku".

Pacaran terindah

Tulisan ini sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pacaran . . .”


Sepasang remaja pria dan wanita telah lama berpacaran, telah banyak saling berbagi, telah banyak yang dijalani baik suka maupun duka.

Lalu suatu ketika mereka putus, beberapa waktu kemudian, sang wanita merasa kehilangan, dia sangat mencintai pacarnya, dan sangat sulit untuk melupakannya. Hari-hari ia jalani dengan patah hati, kesedihan dan keputus asaan.

Suatu ketika ia bertemu dengan seorang pria lain, mereka pacaran dan lalu menikah. Sang wanita yang telah menjadi isteri ini merasakan bahwa pernikahan adalah hal yang sangat berbeda dibandingkan sewaktu ia pacaran dulu.

Ia merasa, bahwa pacarnya sebelum suaminya adalah seseorang yang sangat berkesan baginya, sang wanita ini tidak pernah merasakan cinta seindah masa lalunya, mantan pacarnya adalah “cinta pertama-nya”. Hatinya mengatakan “cinta tidak harus memiliki, aku akan selalu mencintai dan mengenangmu, kau adalah pria terbaik dalam hidupku, dan tidak akan pernah ada yang dapat menggantikanmu”.


Kisah rekaan diatas seandainya memang terjadi pada kehidupan nyata, menurut saya merupakan suatu hal yang merusak hati, dimana mungkin sang isteri akan kesulitan untuk mencintai suaminya dengan seutuhnya karena bayang-bayang masa lalu dengan mantan pacarnya. Mungkin ia dan suaminya akan menderita karena tidak dapat merasakan indahnya cinta di sisa-sisa hidupnya.

Saya kira semua orang yang telah menikah pasti tahu, pacaran dibandingkan pernikahan pastilah pacaran jauh lebih indah, jawabannya sederhana saja, “karena pacaran hanya untuk mencari rasa indah”. Banyak yang mengatakan, setelah menikah pasangan suami isteri baru akan tahu sifat-sifat pasangan mereka yang sebenarnya.

Salim A Fillah, penulis buku “Indahnya pacaran setelah menikah” mengatakan “Sup kaldu yang bumbunya dimakan duluan” sebagai istilah bagi mereka yang telah menikmati indahnya cinta sepasang kekasih ketika pacaran. Maka, sup itu akan terasa hambar tanpa bumbu, tidaklah lagi sangat berkesan hari-hari pertama kebersamaan sepasang suami isteri.

Beliau juga mengumpamakan “Indahnya pacaran setelah menikah” adalah seperti orang yang berbuka puasa, menahan diri dari yang belum halal, menunggu hari-hari yang indah, dan mengobati rasa dahaga karena puasa yang panjang, maka berbuka akan menjadi sangat nikmat.

Pengalaman-pengalaman pertama yang tidak pernah dirasakan sebelumnya adalah hal yang paling berkesan, paling indah, dan sekaligus yang paling mendebarkan. Seterusnya mungkin adalah hal yang biasa, bahkan kejenuhan atau kebosanan.

Saya percaya dan yakin “Pacaran setelah menikah” adalah jalan terbaik untuk merasakan indahnya cinta pertama dan terakhir, cinta yang hakiki. Alangkah indahnya jika pasangan (suami atau isteri) kita kelak merupakan cinta pertama sekaligus cinta terakhir kita.

Alangkah indahnya bersama berduaan untuk pertama kalinya, bercengkrama dan bercanda berduaan dengan hati yang berdebar dan rasa malu-malu yang sungguh mengasyikan. Alangkah indahnya ketika pertama kali memandang matanya dan membelai rambutnya, alangkah indahnya ketika pertama kali menggenggam tanggan, mencium kening dan memeluk tubuhnya. Semua itu akan menjadi kenangan terindah dan tak terlupakan dalam hidup.

Pada hari-hari berikutnya, saling memberikan perhatian, rekreasi dan jalan-jalan berdua, bercumbu rayu. Alangkah indahnya hal-hal yang pertama dan tidak pernah dirasakan sebelumnya itu. Semoga semua rasa indah itu akan menjadi kekuatan jalinan cinta dalam ikatan suci pernikahan.

Apakah akan ada cinta setelah menikah? Apakah pacaran setelah menikah akan indah? Orang jawa mengatakan, “witting tresna jalaran saka kulina” muasal cinta adalah kebiasaan, orang arab mengatakan “qurbul wisad wa thulus siwad” dekatnya fisik dan panjangnya interaksi. Selain itu tumbuhnya cinta juga memerlukan usaha. Semoga cinta akan dapat tumbuh dan berkembang karena kebersamaan dan saling berbagi. Allah memberikan ketentraman hati kepada orang yang baru menikah, lalu Allah menjadikan diantara mereka rasa “kasih dan sayang”.

Lalu bagaimana dengan perbedaan-perbedaan yang dapat muncul setelah mereka menikah? Pada dasarnya memang perbedaan itu adalah fitrah, namun bagaimana kita dapat mensikapi perbedaan-perbedaan dengan bijaksana. Terima dengan hati yang ikhlash setiap kekurangan dan kelemahan dan syukuri semua anugerah yang Allah berikan. Selain itu juga, pernikahan adalah ikatan komitmen dan tanggung jawab.

Pacaran setelah menikah tentu sangatlah indah, dan akan menjadikan pernikahan juga sangat indah seolah syurga kecil didunia ini. Namun semua itu mungkin tidak akan pernah dirasakan oleh mereka yang telah menikmati semua rasa itu sebelum mereka menikah.